gampingan-site
Ini ruang untuk siapa saja yang ingin mengintip dan bicara soal seni rupa. Gampingan, kampung tempat bekas kampus ASRI/STSRI "Asri"/Fak. Seni Rupa ISI Yogyakarta berada, adalah situs penanda untuk komunikasi kita. Tuliskan gagasan Anda via email ke rj_katamsi@yahoo.com atau kaprioke@yahoo.com
Monday, November 20, 2006
Sunday, November 19, 2006
Akhirnya Tidak "Melukis Lagi di Gampingan"
Acara "Melukis Lagi di Gampingan: Aku Datang, Aku Senang, Aku Kenang", yang berlangsung Minggu, 19 November 206, terbilang sukses. Ini kalau kita menggunakan salah satu parameter, yakni kuantitas publik seni yang datang. Dari meja sekretariat tercatat ada sekitar 420 peserta datang dan mendaftar hingga jam 15.00 WIB. Ini tentu tak termasuk banyak seniman atau pengunjung yang datang tapi enggan untuk mencatatkan diri di buku tamu.
Mereka yang datang pun begitu beragam. Ada banyak seniman seni rupa yang sudah punya reputasi. Misalnya Ivan Sagito, Nasirun, Djoko Pekik, Agus Suwage, Ong Hari Wahyu, Koni Herawati, Putu Sutawijaya, dan lainnya. Dari Bali pun datang I Made Djirna. Pun Astari Rasjid dan Pintor Sirait yang beberapa lama ulang-alik Jakarta-Bali. Ada Hanafi dari Depok/Jakarta. Ada Arahmaiani dari Bandung. Datang pula kurator Enin Supriyanto, pemilik Nadi Gallery, Biantoro. Ada Ngurah Nurata dari Solo. Ada GM "Oom Pasikom" Sudarta dari Klaten. Mereka yang berstatus dosen Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) ISI Yogya ketika Gampingan masih jadi kampus pun berhamburan datang. Ada Anusapati, Sudarisman, Alex Luthfi, Agus Burhan, Pracoyo, Sun Ardi, Soebroto SM, dan lainnya. Terlihat pula mondar-mandir arsitek Sta Laretna Adhisakti, penyair Afrizal Malna, dan lainnya. Dan tentu saja tak terbilang banyaknya rombongan seniman yang datang dari kota-kota lain di sekitar Yogya seperti dari Semarang, Solo, Klaten, Magelang, Semarang, Purwokerto, dan lainnya. Apalagi seniman atau mahasiswa seni yang bermukim di Yogyakarta. Wuih, banyak sekali.
Nuansa nostalgis atau romantik nampaknya begitu kuat, sehingga rentetan acara yang telah dirancang oleh panitia, tak bisa berjalan dengan "bagus" sesuai rencana. Seniman2 yang sudah mengagendakan diri untuk melukis, ketika tiba di Gampingan, membatalkan diri karena waktunya habis untuk ngobrol dengan lama yang bertahun-tahun tak bertemu. Maklum, ini merupakan ajang pertama untuk "reuni" setelah Gampingan dicabut "otoritas"-nya sebagai kampus FSR ISI Yogyakarta. Ellia yang jauh-jauh datang dari Tulungagung, Jawa Timur, ya akhirnya sibuk ngobrol ke sana-sini dengan rekan seangkatannya yang telah belasan tahun tak ketemu. Pun dengan Dedi PAW yang meski bukan alumni ISI/ASRI, "gagal" melukis meski telah menyiapkan kanvas di mobilnya. Dia memilih ngobrol dengan sesama teman seniman.
So, ketika acara "ngobrol" soal museum berlangsung, respon peserta kurang optimal. Meskipun bukan berarti gagal, tetapi ada beberapa point yang bisa ditangguk sebagai masukan penting bagi pihak manajemen museum. Beberapa seniman yang ingin bicara serius meski dengan suasana santai, tak bisa maksimal karena "ditingkahi" oleh seniman lain yang lebih dulu fly yang terus teriak2 di sekitar areal acara ngobrol itu. Hahahaha, itulah "roh" ASRI yang dulu begitu lucu bertahun2 hingga 1997 saat kampus ini dipindahkan ke Sewon, Bantul.
Acara ini kemudian ditutup dalam gelap dan oleh tampilnya grup ShaggyDog yang mendendangkan sekitar 8 lau di pelataran utara gedung Sasana Ajiyasa. Tanpa sound system yang memadai, mereka nyanyi, ditingkahi oleh cuap2 penonton yang riuh, juga oleh beberapa seniman yang menari-nari ala musik Ska, termasuk juga seniman Bob Sick yang melukis para personal ShaggyDog on the spot.
...Njing, anjing, anjing, anjing Kintamani ...
Makasih, makasih, teman2 seniman, juga rekan2 pers yang telah menyebarluaskan rencana acara kemarin, dan menjadikan acara Melukis Lagi di Gampingan berlangsung dengan sukses. Meski banyak di anatar mereka "tidak melukis (lagi) di Gampingan"... hahahaha. Salam (kuss indarto)
Mereka yang datang pun begitu beragam. Ada banyak seniman seni rupa yang sudah punya reputasi. Misalnya Ivan Sagito, Nasirun, Djoko Pekik, Agus Suwage, Ong Hari Wahyu, Koni Herawati, Putu Sutawijaya, dan lainnya. Dari Bali pun datang I Made Djirna. Pun Astari Rasjid dan Pintor Sirait yang beberapa lama ulang-alik Jakarta-Bali. Ada Hanafi dari Depok/Jakarta. Ada Arahmaiani dari Bandung. Datang pula kurator Enin Supriyanto, pemilik Nadi Gallery, Biantoro. Ada Ngurah Nurata dari Solo. Ada GM "Oom Pasikom" Sudarta dari Klaten. Mereka yang berstatus dosen Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) ISI Yogya ketika Gampingan masih jadi kampus pun berhamburan datang. Ada Anusapati, Sudarisman, Alex Luthfi, Agus Burhan, Pracoyo, Sun Ardi, Soebroto SM, dan lainnya. Terlihat pula mondar-mandir arsitek Sta Laretna Adhisakti, penyair Afrizal Malna, dan lainnya. Dan tentu saja tak terbilang banyaknya rombongan seniman yang datang dari kota-kota lain di sekitar Yogya seperti dari Semarang, Solo, Klaten, Magelang, Semarang, Purwokerto, dan lainnya. Apalagi seniman atau mahasiswa seni yang bermukim di Yogyakarta. Wuih, banyak sekali.
Nuansa nostalgis atau romantik nampaknya begitu kuat, sehingga rentetan acara yang telah dirancang oleh panitia, tak bisa berjalan dengan "bagus" sesuai rencana. Seniman2 yang sudah mengagendakan diri untuk melukis, ketika tiba di Gampingan, membatalkan diri karena waktunya habis untuk ngobrol dengan lama yang bertahun-tahun tak bertemu. Maklum, ini merupakan ajang pertama untuk "reuni" setelah Gampingan dicabut "otoritas"-nya sebagai kampus FSR ISI Yogyakarta. Ellia yang jauh-jauh datang dari Tulungagung, Jawa Timur, ya akhirnya sibuk ngobrol ke sana-sini dengan rekan seangkatannya yang telah belasan tahun tak ketemu. Pun dengan Dedi PAW yang meski bukan alumni ISI/ASRI, "gagal" melukis meski telah menyiapkan kanvas di mobilnya. Dia memilih ngobrol dengan sesama teman seniman.
So, ketika acara "ngobrol" soal museum berlangsung, respon peserta kurang optimal. Meskipun bukan berarti gagal, tetapi ada beberapa point yang bisa ditangguk sebagai masukan penting bagi pihak manajemen museum. Beberapa seniman yang ingin bicara serius meski dengan suasana santai, tak bisa maksimal karena "ditingkahi" oleh seniman lain yang lebih dulu fly yang terus teriak2 di sekitar areal acara ngobrol itu. Hahahaha, itulah "roh" ASRI yang dulu begitu lucu bertahun2 hingga 1997 saat kampus ini dipindahkan ke Sewon, Bantul.
Acara ini kemudian ditutup dalam gelap dan oleh tampilnya grup ShaggyDog yang mendendangkan sekitar 8 lau di pelataran utara gedung Sasana Ajiyasa. Tanpa sound system yang memadai, mereka nyanyi, ditingkahi oleh cuap2 penonton yang riuh, juga oleh beberapa seniman yang menari-nari ala musik Ska, termasuk juga seniman Bob Sick yang melukis para personal ShaggyDog on the spot.
...Njing, anjing, anjing, anjing Kintamani ...
Makasih, makasih, teman2 seniman, juga rekan2 pers yang telah menyebarluaskan rencana acara kemarin, dan menjadikan acara Melukis Lagi di Gampingan berlangsung dengan sukses. Meski banyak di anatar mereka "tidak melukis (lagi) di Gampingan"... hahahaha. Salam (kuss indarto)
Wednesday, November 15, 2006
Cak Nun tentang Kampus ASRI Yogyakarta
Angin Gampingan yang Asri, Ketika Itu
Oleh Emha Ainun Nadjib
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Sani
yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Mahasiswa
Fakultas Seni Rupa dan Disain ISI Yogyakarta, Maret tahun 1991)
Ketika bertugas sebagai wartawan, awal tahun 1970-an, hampir tiap hari saya nongol di kampus Gampingan, Wirobrajan, dan menganggap keterlibatan saya dalam pergaulan di dalamnya sebagai bagian dari ‘dunia dalam’ saya sendiri.
Kebetulan saya juga suka nulis sajak, dan teman-teman di sana – baik mahasiswa maupun dosen, atau Pak Bon dan Ibu Warung di utara kampus – adalah orang-orang yang langsung maupun tak langsung berkaitan dengan proses kreatif kesenian. Para pelukis dan ‘senirupawan’ adalah orang-orang gila teman dialog yang tak terkirakan asyiknya, sementara ‘para kawula alit’ pakbon-pakbon dan mbok-mbok yang kita sangka ‘lebih rendah’ derajatnya dari kita – sungguh-sungguh merupakan ilham kreativitas yang tiada taranya.
Jadi, mereka, semua adalah ‘narasumber’ bagi kepenyairan dan kewartawanan saya. Hal terakhir itulah yang sebenarnya ingin sekilas saya tuliskan di sini. Kebetulan saja, menjelang era 1970an berakhir, saya telah pensiun dari kewartawanan, dan bersamaan dengan itu ‘situasi progresif dan romantik’ yang akan saya ceritakan ini pun – di ASRI – juga telah ‘pensiun’. Ada proses dahsyat dari ‘negara’ yang membuat atmosfir ASRI kemudian berubah.
***
Apa gerangan ciri ‘angin Gampingan yang asri’ di paruh awal 70an itu?
Pertama, ada situasi psikologis dan kultural yang sangat merangsang kreativitas berkarya seni.
Kedua, hampir selalu berlangsung dialog-dialog kreativitas, nuansa-nuansa pergaulan yang intens dan tema-tema perdebatan yang menyangkut persoalan-persoalan aktual dalam masyarakat dan negara.
Ketiga, lembaga pendidikan ASRI ketika itu memeiliki ketersentuhan integral dan inklusif dalam iklim menyeluruh dari realitas sosial.
Keempat, ‘tangan Negara’ baru mulai menggaruk-garuk, menyentuh-nyentuh pintu kemerdekaan kreatif para seniman. Artinya, belum sampai ‘mengatasi dan menaklukkan’ seperti yang ada pada era 80an terjadi.
Selebihnya tentu saja masih banyak faktor yang bisa kita jelenterehkan, tetapi mudah-mudahan empat hal di atas cukup untuk menjelaskan latar belakang keperluan tematik kita dalam pembicaraan ini.
Saya tidak mengatakan bahwa atmosfir itu “sekarang sudah tidak ada”. Saya sekadar ingin merangsang setiap manusia kreatif untuk kembali belajar dan belajar, kembali bercermin dan bercermin. Ada bagian dari sejarah hari silam yang bisa kita pakai – bukan untuk bernostalgia – melainkan untuk menemukan diri kita kembali.
‘Keluaran’ atau ‘output’ dari atmosfir itu barangkali bisa tergambarkan dengan pencapaian-pencapaian berikut ini.
Sebagai seniman, saya segenerasi dengan mahasiswa-mahasiswa senirupa yang ketika itu aktif mengembangkan diri. Anda tentu ingat nama Hardi, Agus Dermawan Tantono, Nanik Mirna, Narsen Alfatara, Suatmadji, Siti Adiyati Subangun, Harsono, dan lain-lain.
Tercermin dari sepak terjang mereka, ASRI ketika itu adalah “sebuah lapangan terbuka”, sebuah lapangan kebudayaan yang relatif tidak berpagar, atau sebuah kawah kreativitas yang apinya berpijar-pijar.
Saya tidak berpendapat bahwa ‘hanya’ atmosfir semacam itu sudah pasti merupakan jaminan untuk melahirkan seniman besar dengan karya-karya besar. Tetapi itulah modal dasar mekanisme dunia kreativitas seni. Memang ada seniman-seniman agung yang lahir justru dari rahim penindasan politik dan kebekuan kebudayaan, tetapi mereka adalah “genius-genius kekasih Tuhan”, dan kita tidak berbicara tentang itu. Kita bicara dalam perspektif orang biasa, orang-orang ‘normal’, generous, average – dari mana semua sistem nilai dilahirkan dan dipedomankan.
Setidaknya pada waktu itu suasana kompetisi berkarya sangat terasa. Bahkan terdapat ‘perkawinan-perkawinan’ antara dunia senirupa dan dengan sastra atau tari dan teater. Bahkan berlangsung pergesekan intensif dengan pemikiran politik, dengan alam politik, dengan dunia sehari-hari rakyat kecil. Setidaknya Anda bisa membuka-buka lembaran sejarah bahwa generasi mahasiswa progresif-kreatif ASRI pada waktu itu memang terus-menerus ‘mempersatukan diri’ dengan aktivitas rekan-rekannya di luar ASRI: dunia sastrawan di Malioboro dan Senisono atau Kantor Pos, dunia intelektual di Sema-Dema UGM dan universitas-universitas lain, bahkan juga dunia kewartawanan.
Sebagai wartawan saya sempat menemani “para pemberontak” di ASRI dengan Gerakan Black December-nya. Saya melakukan ‘subversi’ dengan mencuri ruang redaksi harian Masa Kini tanpa izin untuk tempat rapat pergerakan mereka, sehingga besoknya saya – tentu saja – dimarahi oleh Pak Boss.
Apa yang mereka berontak? Represi terhadap kreativitas yang mungkin ‘diwakili’ oleh birokrasi di kampusnya, oleh sementara dosen, atau peraturan-peraturan tertentu yang mereka rasakan sebagai ancaman terhadap kemerdekaan kreatif.
Tetap bisa kita perdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus itu. Tetapi yang penting adalah tersedianya iklim – yang ketika itu – untuk melangsungkan dialog dan dialektika kreatif.
Ketika itu ASRI ada di hati masyarakat, karib dengan akomodasi dunia kreativitas oleh mass media, terlibat dan memiliki eksistensi kultural yang jelas dalam kehidupan bermasyarakat.
***
Tapi kemudian situasi itu berubah. Tahun 1978 adalah puncak keberhasilan ‘negara’ dalam memobilisasikan seluruh kekuatan sosial – termasuk dunia kesenian – untuk patuh dan berbaris dalam rekayasa politik kebudayaan.
Memuncak pulalah apa yang disebut ‘floating mass’, politik massa mengambang, di mana hampir hampir seluruh kekuatan non-negara tidak memliki kesanggupan apa-apa kecuali loyal terhadap apa saja yang diteknokrasikan oleh pemimpin-pemimpin politik. Tidak mampu berbuat apa-apa kecuali terserimpung dalam ‘cultural machinary’, dan para birokrat kebudayaan – dan mungkin juga para dosen tertentu – adalah agen-agen langsung maupun tidak langsung dari pemandulan kreativitas global dan massal seperti itu.
Komunitas-komunitas sosial, lembaga-lembaga rakyat, kumpulan-kumpulan kaum kreator, pada situasi seperti itu, tiba-tiba tampak sebagai kandang-kandang yang tertutup rapat dengan dinding-dinding tebal yang tidak memungkinkan mereka berhubungan satu sama lain. Itu bisa berujud ekslusivisme estetika, ketertutupan dunia pendidikan, alienasi bidang ilmu atau profesi tertentu dari ‘rekan-rekannya’.
Kemudian generasi yang lahir adalah anak-anak muda yang provinsialis, tak begitu mengerti kiri-kanan, asyik sendiri, wawasannya tersunat-sunat, metabolisme kreatifnya mandeg atau jalan di tempat. Dan yang paling parah: mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri mereka.
Adapun, siapakah Anda?
Yogya, 8 Februari 1991
Oleh Emha Ainun Nadjib
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Sani
yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Mahasiswa
Fakultas Seni Rupa dan Disain ISI Yogyakarta, Maret tahun 1991)
Ketika bertugas sebagai wartawan, awal tahun 1970-an, hampir tiap hari saya nongol di kampus Gampingan, Wirobrajan, dan menganggap keterlibatan saya dalam pergaulan di dalamnya sebagai bagian dari ‘dunia dalam’ saya sendiri.
Kebetulan saya juga suka nulis sajak, dan teman-teman di sana – baik mahasiswa maupun dosen, atau Pak Bon dan Ibu Warung di utara kampus – adalah orang-orang yang langsung maupun tak langsung berkaitan dengan proses kreatif kesenian. Para pelukis dan ‘senirupawan’ adalah orang-orang gila teman dialog yang tak terkirakan asyiknya, sementara ‘para kawula alit’ pakbon-pakbon dan mbok-mbok yang kita sangka ‘lebih rendah’ derajatnya dari kita – sungguh-sungguh merupakan ilham kreativitas yang tiada taranya.
Jadi, mereka, semua adalah ‘narasumber’ bagi kepenyairan dan kewartawanan saya. Hal terakhir itulah yang sebenarnya ingin sekilas saya tuliskan di sini. Kebetulan saja, menjelang era 1970an berakhir, saya telah pensiun dari kewartawanan, dan bersamaan dengan itu ‘situasi progresif dan romantik’ yang akan saya ceritakan ini pun – di ASRI – juga telah ‘pensiun’. Ada proses dahsyat dari ‘negara’ yang membuat atmosfir ASRI kemudian berubah.
***
Apa gerangan ciri ‘angin Gampingan yang asri’ di paruh awal 70an itu?
Pertama, ada situasi psikologis dan kultural yang sangat merangsang kreativitas berkarya seni.
Kedua, hampir selalu berlangsung dialog-dialog kreativitas, nuansa-nuansa pergaulan yang intens dan tema-tema perdebatan yang menyangkut persoalan-persoalan aktual dalam masyarakat dan negara.
Ketiga, lembaga pendidikan ASRI ketika itu memeiliki ketersentuhan integral dan inklusif dalam iklim menyeluruh dari realitas sosial.
Keempat, ‘tangan Negara’ baru mulai menggaruk-garuk, menyentuh-nyentuh pintu kemerdekaan kreatif para seniman. Artinya, belum sampai ‘mengatasi dan menaklukkan’ seperti yang ada pada era 80an terjadi.
Selebihnya tentu saja masih banyak faktor yang bisa kita jelenterehkan, tetapi mudah-mudahan empat hal di atas cukup untuk menjelaskan latar belakang keperluan tematik kita dalam pembicaraan ini.
Saya tidak mengatakan bahwa atmosfir itu “sekarang sudah tidak ada”. Saya sekadar ingin merangsang setiap manusia kreatif untuk kembali belajar dan belajar, kembali bercermin dan bercermin. Ada bagian dari sejarah hari silam yang bisa kita pakai – bukan untuk bernostalgia – melainkan untuk menemukan diri kita kembali.
‘Keluaran’ atau ‘output’ dari atmosfir itu barangkali bisa tergambarkan dengan pencapaian-pencapaian berikut ini.
Sebagai seniman, saya segenerasi dengan mahasiswa-mahasiswa senirupa yang ketika itu aktif mengembangkan diri. Anda tentu ingat nama Hardi, Agus Dermawan Tantono, Nanik Mirna, Narsen Alfatara, Suatmadji, Siti Adiyati Subangun, Harsono, dan lain-lain.
Tercermin dari sepak terjang mereka, ASRI ketika itu adalah “sebuah lapangan terbuka”, sebuah lapangan kebudayaan yang relatif tidak berpagar, atau sebuah kawah kreativitas yang apinya berpijar-pijar.
Saya tidak berpendapat bahwa ‘hanya’ atmosfir semacam itu sudah pasti merupakan jaminan untuk melahirkan seniman besar dengan karya-karya besar. Tetapi itulah modal dasar mekanisme dunia kreativitas seni. Memang ada seniman-seniman agung yang lahir justru dari rahim penindasan politik dan kebekuan kebudayaan, tetapi mereka adalah “genius-genius kekasih Tuhan”, dan kita tidak berbicara tentang itu. Kita bicara dalam perspektif orang biasa, orang-orang ‘normal’, generous, average – dari mana semua sistem nilai dilahirkan dan dipedomankan.
Setidaknya pada waktu itu suasana kompetisi berkarya sangat terasa. Bahkan terdapat ‘perkawinan-perkawinan’ antara dunia senirupa dan dengan sastra atau tari dan teater. Bahkan berlangsung pergesekan intensif dengan pemikiran politik, dengan alam politik, dengan dunia sehari-hari rakyat kecil. Setidaknya Anda bisa membuka-buka lembaran sejarah bahwa generasi mahasiswa progresif-kreatif ASRI pada waktu itu memang terus-menerus ‘mempersatukan diri’ dengan aktivitas rekan-rekannya di luar ASRI: dunia sastrawan di Malioboro dan Senisono atau Kantor Pos, dunia intelektual di Sema-Dema UGM dan universitas-universitas lain, bahkan juga dunia kewartawanan.
Sebagai wartawan saya sempat menemani “para pemberontak” di ASRI dengan Gerakan Black December-nya. Saya melakukan ‘subversi’ dengan mencuri ruang redaksi harian Masa Kini tanpa izin untuk tempat rapat pergerakan mereka, sehingga besoknya saya – tentu saja – dimarahi oleh Pak Boss.
Apa yang mereka berontak? Represi terhadap kreativitas yang mungkin ‘diwakili’ oleh birokrasi di kampusnya, oleh sementara dosen, atau peraturan-peraturan tertentu yang mereka rasakan sebagai ancaman terhadap kemerdekaan kreatif.
Tetap bisa kita perdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus itu. Tetapi yang penting adalah tersedianya iklim – yang ketika itu – untuk melangsungkan dialog dan dialektika kreatif.
Ketika itu ASRI ada di hati masyarakat, karib dengan akomodasi dunia kreativitas oleh mass media, terlibat dan memiliki eksistensi kultural yang jelas dalam kehidupan bermasyarakat.
***
Tapi kemudian situasi itu berubah. Tahun 1978 adalah puncak keberhasilan ‘negara’ dalam memobilisasikan seluruh kekuatan sosial – termasuk dunia kesenian – untuk patuh dan berbaris dalam rekayasa politik kebudayaan.
Memuncak pulalah apa yang disebut ‘floating mass’, politik massa mengambang, di mana hampir hampir seluruh kekuatan non-negara tidak memliki kesanggupan apa-apa kecuali loyal terhadap apa saja yang diteknokrasikan oleh pemimpin-pemimpin politik. Tidak mampu berbuat apa-apa kecuali terserimpung dalam ‘cultural machinary’, dan para birokrat kebudayaan – dan mungkin juga para dosen tertentu – adalah agen-agen langsung maupun tidak langsung dari pemandulan kreativitas global dan massal seperti itu.
Komunitas-komunitas sosial, lembaga-lembaga rakyat, kumpulan-kumpulan kaum kreator, pada situasi seperti itu, tiba-tiba tampak sebagai kandang-kandang yang tertutup rapat dengan dinding-dinding tebal yang tidak memungkinkan mereka berhubungan satu sama lain. Itu bisa berujud ekslusivisme estetika, ketertutupan dunia pendidikan, alienasi bidang ilmu atau profesi tertentu dari ‘rekan-rekannya’.
Kemudian generasi yang lahir adalah anak-anak muda yang provinsialis, tak begitu mengerti kiri-kanan, asyik sendiri, wawasannya tersunat-sunat, metabolisme kreatifnya mandeg atau jalan di tempat. Dan yang paling parah: mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri mereka.
Adapun, siapakah Anda?
Yogya, 8 Februari 1991
Sunday, November 12, 2006
Aku Datang, Aku Senang2, Aku Madhang...
Acara "Melukis Lagi di Gampingan" rencananya mo dibikin sante aja. Have fun aja. Ngapain serius2. Kesenian kok serius, hahahaha! Jadi ya, ayo datang, ayo senang2, ayo madhang (makan2). Tajuknya sih ada kata "melukis", tapi aktivitas itu bukan satu2nya yang bisa dilakukan di Gampingan. Kalau mo performance, silakan. Arahmaiani juga Tisna Sanjaya sudah siap jauh2 dari Bandung mo dateng dan "bakar2" Gampingan. Pak Abas Alibasjah yang dulu Direktur ASRI tahun 1970-an mo nyempatka diri dateng, nengok artefak "kekuasaannya" tigapuluhan lalu. Nyoman Gunarsa yang jaman baheula dulu datang ke Yogya dalam keadaan "miskin" dan keluar sudah dalam posisi jadi miliarder, juga mo rame2 nggambar juga di sana.
So, sampeyan yang ada dideket2 deket ma Gampingan, Wirobrajan, Yogya, mosok nggaya banget gak mo dateng? Sudah kontemporer pi piye, njuk juwal mahal? Hahahaha. Mbok ayo bikin ribut Gampingan. Yang mo dateng bawa model ce cakep, ke. Yang mo baca puingsi kayak Saut Sotumorang, ayo ja. Yang m dateng en bengak-bengok, oke-oke aja. Disedain megapon sama toa kapasitas gede banget kok. Mo nyannyi asal cuap sampai sembilan oktaf, silakan, sak jebolnya cangkem sampeyan. Mo juwalan komik fotokopian atau dagangan yang indie-mengindie, ditumplakkan aja ya.
Otree, otreee, otree ya.
Kami tunggu hari Minggu, 19 November 2006, mulai jam 08.00 wib thit! Yang mo nerusin hethek atau nongkrong2 di situ sampe malem, silakan aja. Mo nginep, oke, tapi tnggung jawab bawa bantal sendiri. Heheheh
So, sampeyan yang ada dideket2 deket ma Gampingan, Wirobrajan, Yogya, mosok nggaya banget gak mo dateng? Sudah kontemporer pi piye, njuk juwal mahal? Hahahaha. Mbok ayo bikin ribut Gampingan. Yang mo dateng bawa model ce cakep, ke. Yang mo baca puingsi kayak Saut Sotumorang, ayo ja. Yang m dateng en bengak-bengok, oke-oke aja. Disedain megapon sama toa kapasitas gede banget kok. Mo nyannyi asal cuap sampai sembilan oktaf, silakan, sak jebolnya cangkem sampeyan. Mo juwalan komik fotokopian atau dagangan yang indie-mengindie, ditumplakkan aja ya.
Otree, otreee, otree ya.
Kami tunggu hari Minggu, 19 November 2006, mulai jam 08.00 wib thit! Yang mo nerusin hethek atau nongkrong2 di situ sampe malem, silakan aja. Mo nginep, oke, tapi tnggung jawab bawa bantal sendiri. Heheheh
Thursday, November 09, 2006
Ikutan yuuuuuukks...
Yayasan Museum Seni Rupa Yogyakarta bekerjasama dengan para seniman alumni Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta akan mengadakan perhelatan “Melukis Lagi di Gampingan”, Minggu 19 November 2006 mendatang. Acara berlangsung sehari penuh, mulai pukul 08.00 pagi hingga 18.00 WIB bertempat di bekas kampus STSRI “Asri” atau Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, di Jalan Gampingan No. 1, Wirobrajan, Yogyakarta. Perhelatan ini dihasratkan sebagai forum komunikasi antarseniman seni rupa di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, sekaligus sebagai upaya sosialisasi atas rencana pembangunan Museum Seni Rupa Yogyakarta.
Acara melukis bersama ini tidak sekadar merawat semangat romantisme atas keberadaan (bekas) kampus seni rupa tertua di Indonesia itu, tetapi juga dimaksudkan sebagai “pintu masuk” bagi upaya mewacanakan lebih lanjut gagasan berdirinya museum seni rupa di Yogyakarta. Oleh karenanya, acara ini tidak ditendensikan sebagai perhelatan yang bersifat internal, tetapi terbuka seluas-luasnya bagi publik seni rupa di Yogyakarta, bahkan Indonesia, untuk terlibat di dalamnya. Mereka yang berminat untuk terlibat sebagai peserta tidak harus alumni STSRI “Asri” atau FSR ISI Yogyakarta, atau seniman di Yogyakarta saja. Melainkan terbuka juga kemungkinannnya bagi para seniman di kota lain atau anak-anak untuk menjadi peserta, sejauh telah memiliki pengalaman dan ketertarikan terhadap seni rupa.
Kalimat "Melukis Lagi di Gampingan" juga dimaksudkan sebagai tag-line semata, karena dalam praktiknya nanti panitia tidak menutup kemungkinan untuk menerima peserta yang akan menampilkan bentuk kreasi beragam. Misalnya performance art, bikin video art, baca puisi, mengeksposisikan happening art, dan sebagainya.
Panitia memperkirakan acara ini akan melibatkan sedikitnya 300 peserta. Sejauh ini, panitia telah mendapatkan dukungan dari banyak seniman profesional untuk terlibat dalam acara melukis bersama ini. Di antaranya adalah pelukis Djoko Pekik, Nasirun, Pupuk Daru Purnomo, Bambang “Benk” Pramudyanto yang telah membangun reputasi di Yogyakarta. Juga beberapa seniman dari luar Yogyakarta yang telah memiliki reputasi bersedia untuk terlibat, seperti Hardi (Jakarta), Bonyong Munni Ardhi (Solo), Nyoman Gunarsa dan Made Wianta (Bali), Ivan Hariyanto (Surabaya), dan masih banyak lagi.
Sebagai kelanjutan acara melukis bersama, direncanakan hasil karya lukis tersebut akan dipamerkan secara kolektif di bekas kampus Gampingan. Pameran itu ditendensikan sebagai bentuk fundrising atau penggalangan dana, sehingga diharapkan kepada seniman peserta untuk mendonasikan sebagaian hasil penjualan karya sesuai kesepakan yang telah ditentukan panitia.
Untuk rencana perhelatan ini, panitia telah membuka pendaftarannya mulai tanggal 5 hingga 18 November 2006. Untuk keterangan lebih lanjut bisa kontak via telepon atau faksimili ke Arini (0274-419370), Tere (0856 2870 229), dan Janu (081 57974 359). Atau bisa lewat email ndalemwironegaran@yahoo.com, rj_katamsi@yahoo.com
Penasihat: KPH Wironegoro a.k.a. Mas Nico
Ketua Umum: Yuswantoro Adi
Koordinator Pelaksana: Kuss Indarto
Divisi Acara: Iwan Wijono
Divisi Teknis: Bramantyo
Acara melukis bersama ini tidak sekadar merawat semangat romantisme atas keberadaan (bekas) kampus seni rupa tertua di Indonesia itu, tetapi juga dimaksudkan sebagai “pintu masuk” bagi upaya mewacanakan lebih lanjut gagasan berdirinya museum seni rupa di Yogyakarta. Oleh karenanya, acara ini tidak ditendensikan sebagai perhelatan yang bersifat internal, tetapi terbuka seluas-luasnya bagi publik seni rupa di Yogyakarta, bahkan Indonesia, untuk terlibat di dalamnya. Mereka yang berminat untuk terlibat sebagai peserta tidak harus alumni STSRI “Asri” atau FSR ISI Yogyakarta, atau seniman di Yogyakarta saja. Melainkan terbuka juga kemungkinannnya bagi para seniman di kota lain atau anak-anak untuk menjadi peserta, sejauh telah memiliki pengalaman dan ketertarikan terhadap seni rupa.
Kalimat "Melukis Lagi di Gampingan" juga dimaksudkan sebagai tag-line semata, karena dalam praktiknya nanti panitia tidak menutup kemungkinan untuk menerima peserta yang akan menampilkan bentuk kreasi beragam. Misalnya performance art, bikin video art, baca puisi, mengeksposisikan happening art, dan sebagainya.
Panitia memperkirakan acara ini akan melibatkan sedikitnya 300 peserta. Sejauh ini, panitia telah mendapatkan dukungan dari banyak seniman profesional untuk terlibat dalam acara melukis bersama ini. Di antaranya adalah pelukis Djoko Pekik, Nasirun, Pupuk Daru Purnomo, Bambang “Benk” Pramudyanto yang telah membangun reputasi di Yogyakarta. Juga beberapa seniman dari luar Yogyakarta yang telah memiliki reputasi bersedia untuk terlibat, seperti Hardi (Jakarta), Bonyong Munni Ardhi (Solo), Nyoman Gunarsa dan Made Wianta (Bali), Ivan Hariyanto (Surabaya), dan masih banyak lagi.
Sebagai kelanjutan acara melukis bersama, direncanakan hasil karya lukis tersebut akan dipamerkan secara kolektif di bekas kampus Gampingan. Pameran itu ditendensikan sebagai bentuk fundrising atau penggalangan dana, sehingga diharapkan kepada seniman peserta untuk mendonasikan sebagaian hasil penjualan karya sesuai kesepakan yang telah ditentukan panitia.
Untuk rencana perhelatan ini, panitia telah membuka pendaftarannya mulai tanggal 5 hingga 18 November 2006. Untuk keterangan lebih lanjut bisa kontak via telepon atau faksimili ke Arini (0274-419370), Tere (0856 2870 229), dan Janu (081 57974 359). Atau bisa lewat email ndalemwironegaran@yahoo.com, rj_katamsi@yahoo.com
Penasihat: KPH Wironegoro a.k.a. Mas Nico
Ketua Umum: Yuswantoro Adi
Koordinator Pelaksana: Kuss Indarto
Divisi Acara: Iwan Wijono
Divisi Teknis: Bramantyo
Friday, November 03, 2006
MELUKIS LAGI DI GAMPINGAN
Romantis adalah kata kunci usulan kegiatan ini. Namun apa salahnya dengan hal itu,bukankah ia memiliki energi yang luar biasa?
Energi macam itulah yang akan kita olah menjadi sebuah kegiatan produktif sekaligus estetik. dua konsep itulah yang menjadi acuan utama sehingga semangat romantisme ini tidak terjebak pada kedangkalan makna.
Kampus FSRD ISI, dahulu STSRI "ASRI" di jalan Gampingan nomer 1 Yogyakarta, sudah barang tentu menjadi kenangan khusus bagi alamaternya. maka ketika ada kesempatan melukis lagi di tempat itu merupakan sebuah romantisme tersendiri. acara ini bisa di pastikan akan menarik minat para seniman sekaligus kesempatan emas bagi yayasan museum untuk 'kulonuwun' yakni memperkenalkan diri sekaligus rencana dan juga konsep tentang pembangunan Jogja National Museum sambil berharap mendapat masukan dari seniman /stakeholder tentang wacana ini. hal tersebut penting karena selama ini wacana tentang pembngunan museum di bekas kampus ASRI masih belum jelas benar.
Energi macam itulah yang akan kita olah menjadi sebuah kegiatan produktif sekaligus estetik. dua konsep itulah yang menjadi acuan utama sehingga semangat romantisme ini tidak terjebak pada kedangkalan makna.
Kampus FSRD ISI, dahulu STSRI "ASRI" di jalan Gampingan nomer 1 Yogyakarta, sudah barang tentu menjadi kenangan khusus bagi alamaternya. maka ketika ada kesempatan melukis lagi di tempat itu merupakan sebuah romantisme tersendiri. acara ini bisa di pastikan akan menarik minat para seniman sekaligus kesempatan emas bagi yayasan museum untuk 'kulonuwun' yakni memperkenalkan diri sekaligus rencana dan juga konsep tentang pembangunan Jogja National Museum sambil berharap mendapat masukan dari seniman /stakeholder tentang wacana ini. hal tersebut penting karena selama ini wacana tentang pembngunan museum di bekas kampus ASRI masih belum jelas benar.







