gampingan-site

Ini ruang untuk siapa saja yang ingin mengintip dan bicara soal seni rupa. Gampingan, kampung tempat bekas kampus ASRI/STSRI "Asri"/Fak. Seni Rupa ISI Yogyakarta berada, adalah situs penanda untuk komunikasi kita. Tuliskan gagasan Anda via email ke rj_katamsi@yahoo.com atau kaprioke@yahoo.com

Name: gampingan

Saturday, December 16, 2006

Poros Gampingan dan Sepotong Mimpi

(Tulisan ini telah dimuat di katalog pameran Homage 2 Homesite yang berlangsung di eks kampus ASRI/FSR ISI Yogyakarta, 15-30 Desember 2006)

Catatan: Suwarno Wisetrotomo

Poros Gampingan (sebutan ini jika saya tak salah, mula pertama dikatakan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib), yang tak lain adalah Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, kemudian menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI “ASRI”) Yogyakarta, lalu tahun 1984 menjadi Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) yang menjadi bagian penting dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, merupakan penyeimbang dari Poros Bulaksumur. Poros yang ini, kita tahu, maksudnya adalah Universitas Gadjah Mada (UGM). Poros Gampingan diyakini sebagai markas besar tempat lahir dan berkembangnya kreativitas seni rupa dalam bentuknya yang luas, lentur, dan ‘serba mungkin’. Sementara Poros Bulaksumur dicitrakan sebagai markas besar tempat lahir dan berkembangnya pemikiran ilmu-ilmu humaniora, sosial, politik, sains, dan teknologi yang serba tertib, rigid, dan pasti.

Maka kehidupan antara Poros Gampingan dan Poros Bulaksumur, yang kemudian diramaikan oleh Poros Malioboro – sebagai arena pertemuan berbagai disiplin; sebagai melting pot – membuat kehidupan (masyarakat kota) Yogyakarta menjadi lebih hidup. Jangan lupa, Yogyakarta juga memiliki Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (dan para rajanya) yang kharismatis, serta Kadipaten Pakualaman. Ada makam para raja pendiri Mataram dan kerabatnya di Imogiri. Lalu ada Tugu Golong Gilig, Gunung Merapi yang kerapkali fenomenal dan atraktif menunjukkan kridha-nya (dilengkapi sosok Mbah Marijan yang teguh dan waskita), Tugu Krapyak, Pantai Parangtritis yang penuh mitos, kemudian Pasar Beringharjo, Pasar Burung Ngasem, dan sejumlah bangunan heritage colonial Belanda yang (sebagian) terawat dengan baik.

Kedua poros (Gampingan dan Bulaksumur) dengan takdirnya pada waktu itu, sungguh membuat Yogyakarta menjadi kawasan yang berbudaya, beradab, dan penuh kejutan. Khususnya Poros Gampingan, dengan segala daya kreativitasnya – yang kadang tampak banal, kurang ajar, eksentrik, mungkin juga tampak anarkhis – menawarkan kejutan-kejutan pada masyarakat. Namun jangan pula lupa, bahwa dari Gampingan-lah, seni rupa modern, seni rupa kontemporer Indonesia, kelak juga dunia internasional, mendapatkan pasokannya secara meyakinkan. Dari Gampingan tercatat sejumlah “pemberontakan kreatif” seperti Pameran Seni Rupa Kepribadian Apa (PIPA), Nusantara-Nusantara, Desember Hitam, Seni Lingkungan, Destructive Image, ada juga kelompok Mahasiswa Seni Pencinta Alam (Sasenitala), serta sejumlah “terobosan” kreatif yang mencerahkan. Halaman tulisan ini akan terlalu sempit untuk sekadar menyebut nama yang mewangikan jagad seni rupa Indonesia dan seni rupa internasional yang berasal dari “rumah Gampingan”. Akan tetapi baiklah, jika harus menyebut beberapa saja, seperti Affandi, RJ Katamsi, Suromo, Abdul Salam, Saptoto, Widayat, Fadjar Sidik, Aming Prayitno, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Subroto SM, hingga Sudarisman, Ivan Sagito, Nyoman Erawan, Heri Dono, Eddi Hara, Nindityo Adi Purnomo, Entang Wiharso, Fauzi As’ad, Nasirun, dan berderet-deret panjang nama lainnya. Nama-nama tersebut (sekali lagi masih terdapat berderet-deret nama lainnya), tak bisa disangkal, merupakan nama-nama yang malang melintang dalam jagad seni rupa Indonesia maupun internasional.

Apakah dari Gampingan hanya lahir para kreator (seniman)? Jika dirunut sejak mulanya institusi tersebut didirikan (ASRI diresmikan pada 15 Januari 1950), memang, di sana porsi utama proses belajar mengajar adalah “menjadi seniman” (khususnya menjadi pelukis, pematung, pegrafis, disainer, dan pekriya, dan kini seiring meluasnya wacana tentang batas-batas profesi, sebutannya menjadi perupa). Mata kuliah teori, seperti kritik seni, tinjauan seni, sosiologi seni, sejarah seni rupa, filsafat, dll, tentu saja ada. Akan tetapi karena “menjadi seniman” adalah arus utama, maka “menjadi yang lain-lain” - sebutlah seperti kritikus, kurator, pengelola galeri, pengelola museum seni, art dealer, kolektor, manajer, jurnalis seni rupa, bahkan guru/dosen – menjadi “arus sempalan”. Jadi memang agak nyeleneh, bahwa dari Gampingan juga melahirkan orang-orang seperti Agus Dermawan T, Hendro Wiyanto, Sumartono, M. Dwi Marianto, M. Agus Burhan, Nindityo Adi Purnomo, dan maaf menyebut diri sendiri, Suwarno Wisetrotomo, serta sejumlah generasi berikut seperti Kuss Indarto, Mikke Susanto, Sujud Dartanto, Rain Rosidi, yang memusatkan kiprahnya di luar menjadi seniman. Mereka semua memusatkan diri sebagai kritikus, kurator, dan peneliti seni. Sebagai perkecualian, Nindityo Adi Purnomo berhasil sebagai seniman juga pengelola sebuah Rumah Seni (bersama isterinya Mella Jaarsma), Agus Burhan tetap berkarya seni lukis, dan berhasil meraih derajat Doktor dalam ilmu sejarah, dan sebagai peneliti.

Menjaga Mimpi

Pada suatu ketika, di tahun 1984, ISI Yogyakarta diresmikan di Gampingan. Sebagian dari cita-cita ISI Yogyakarta adalah memiliki kampus terpadu, yang dapat menyatukan seluruh fakultas di satu area. Untuk itulah, maka pada akhirnya Gampingan harus ditinggalkan, karena harus “menyesuaikan diri”, bersama-sama dengan Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Media Rekam, jadi satu area di Jalan Parangtritis km 6,5. Maka yang terjadi di Gampingan adalah kenyataan baru: atmosfir kreatif itu lenyap. Dicabut dan diboyong ke Sewon, tetapi tentu tidak mudah memindah atmosfir kreatif itu langsung tercipta di area baru.

Hal lain yang cukup mengganggu, bahwa Yogyakarta yang nota bene menjadi basis kelahiran dan pertumbuhan seni rupa modern/kontemporer, justru tidak memiliki tempat yang memadai yang dapat digunakan untuk menyimpan jejak-jejak sejarah seni rupa. Ironis. Saya kira ini sebuah fakta yang menegaskan, bahwa Negara memang belum memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap salah satu produk kebudayaan yang disebut kesenian. Ia, kesenian itu, masih dianggap sebagai asesoris yang sekali waktu dianggap penting, tetapi bisa dengan mudah dilupakan. Padahal sesungguhnya, dari kesenianlah kita semua dapat belajar tentang sensitivitas, sensibilitas, dan toleransi.

Maka pada suatu ketika, muncullah wacana Museum Seni Rupa di Yoyakarta. Sekitar awal tahun 1990-an, saya pernah terlibat pembicaraan ikhwal Museum Seni Rupa ini dengan sejumlah tokoh, antara lain Bagong Kussudiardja (alm.), Tulus Warsito, Harjiman (alm.), Nindityo Adi Purnomo, Mahatmanto, Eko Prawoto, Hajar Pamadhi (sangat mungkin saya salah dan lupa mengingat nama-nama. Maaf!). Bahkan pernah mendapat respons (bahkan tantangan) dari Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X, dalam bentuk menawarkan sejumlah tempat untuk digunakan, dengan catatan harus direncanakan secara matang. Akan tetapi, entah mengapa, kami tak pernah mampu menjawab tantangan Ngarso Dalem. Yang pasti, terlalu benyak ide, tetapi miskin aksi.

Di awal tahun 2006 mimpi tentang Museum Seni Rupa kembali muncul. Inisiatif datang dari KPH Wironegoro (yang pada awalnya mengundang saya, Direktur Karta Pustaka Anggi Minarni, dan arsitek Laretna ‘Sita’ Adhisakti untuk mendiskusikan gagasan tersebut, dan berlangsung beberapa kali). Ide mendirikan “Jogja National Museum” ini saya anggap tepat dan penting, antara lain karena; pertama, sudah saatnya merealisasikan mimpi lama; kedua, sudah kelewat terlambat Yogyakarta memiliki institusi ini; ketiga, bekas kampus Gampingan merupakan tempat yang tepat, karena memiliki ikatan sejarah yang penting dengan seni rupa Indonesia.
Membuat museum? Yang bener aja! Mimpi kali yee…! Saya akan mengatakan: Ya, bener! Memang mimpi! Mari kita mulai dari mimpi. Akan tetapi siapapun tahu, membuat museum bukan seperti membangun kios kelontong. Membangun museum adalah membangun infrastruktur; membangun fisik, membangun peranti, membangun gagasan dan konsep, serta membangun kesinambungan. Kesemuanya tidak murah ongkosnya. Bahkan kelewat mahal. Namun yang pasti: inilah investasi budaya yang akan bermanfaat bagi generasi mendatang. Bagi saya, gagasan ini penting dan perlu, serumit apapun risikonya.

Pertanyaan yang sering muncul: kapan museum itu terwujud? Saya tidak tahu pasti. Ini gagasan besar yang membutuhkan sinergi dari banyak pihak. Ia nyaris musykil didirikan oleh hanya seseorang, atau sebuah yayasan, kecuali mendapatkan sponsor dari perusahaan multinasional/internasional, atau sekalian dibangun oleh pemerintah. Sebab nalarnya, pemerintahlah yang paling bertanggung jawab, sebagai bagian dari menyediakan institusi dan fasilitas pendidikan.

Pameran “Homage to Homesite”

Bermula dari kegiatan “Melukis Lagi di Gampingan” (MLG) yang dikoordinasi oleh Yuswantoro Adi. Kegiatan ini tak bisa disangkal lebih sebagai ajang temu kangen. Tema “Melukis Lagi di Gampingan” juga belum mewakili seluruh profil profesi alumni Gampingan. Maksud saya, masih juga soal lukisan, padahal alumni Gampingan meliputi seluruh praktek seni rupa (termasuk kriya) dan disain. Mungkin akan berbeda hasilnya, jika temanya berbunyi “Berkarya Lagi di Gampingan”.

Kegiatan MLG dilanjutkan dengan pameran dengan tajuk “Homage to Homesite – Kembali ke Gampingan”, saya anggap sebagai bagian dari cara “menjaga mimpi tentang museum”. Pameran ini, apa boleh buat, didominasi oleh lukisan. Tentang kualitas, ya apa boleh buat juga, gado-gado. Tak semuanya tentang hasil MLG. Atau, jika karya itu hasil MLG, bisa diduga, sekadar rekaman selintas yang seringkali tanpa intensitas. Bahkan ada yang mengirim “karya” dengan angka tahun (produksi) 90-an. Sejumlah karya, bahkan datang dari anak-anak. Asyik juga. Ini bahkan menjadi bagian penting dari “mimpi” tentang museum, sebab, anak-anak kitalah yang paling membutuhkan.

OK, tak apa. Ini pesta. Tepatnya sepotong pesta. Bahwa Gampingan adalah rumah para seniman. Di sanalah mula-mula pilihan (menjadi seniman) dijatuhkan, perjuangan dilakukan, jatuh bangun dijalankan, kemudian eksistensi dipertaruhkan. Sebagian survive, populer, dan memberikan kontribusi pada perkembangan kreativitas serta wacana seni rupa. Sebagian lainnya, melakoni hidup dengan kenyataan yang lain. Satu yang pasti, di Gampingan pernah terjadi pergulatan yang dahsyat.

Pameran ini pastilah hanya sepotong jejak pergulatan ini. Sebagai tanda awal, sebagian dari komunitas ini ingin menyatakan penghargaan dan penghormatan kepada rumah lama, yang menjadi bagian dari sejarah kehidupan kesenian dan kesenimanan para alumni. Juga menjadi bagian kecil dari cara menjaga dan merawat mimpi tentang Jogja National Museum. Siapa tahu, kegiatan awal ini menjadi provokasi yang kuat dan efektif kepada semua pihak (juga pemerintah), agar segera tergugah. Inilah saatnya melakukan investasi kebudayaan demi anak cucu kelak, agar menjadi generasi yang lebih sensitif, lebih peka terhadap berbagai persoalan manusia dan kemanusiaan, generasi yang lebih berbudaya dan lebih beradab. Insya Allah. Amin.

Suwarno Wisetrotomo, alumnus angkatan tahun 1982, kini mengajar di almamaternya, FSR ISI Yogyakarta.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home