Pengantar Yuswantoro Adi (Ketua Umum)
Kata Pengantar Pameran “Homage 2 Homeside”
Pameran adalah sebuah kegiatan memamerkan sesuatu. Namun pameran kali ini unik, karena ia bukan sekadar memamerkan karya seni sebagai materi utama seperti pada pameran seni rupa umumnya. Ada banyak hal yang juga ikut dipamerkan, bukan hanya pelengkap semata, melainkan menjadi materi penting atau bahkan mungkin lebih penting daripada karya seni rupa itu sendiri. Tetapi, tolong jangan lantas dipahami bahwa pengantar ini bermaksud mengecil artikan peran seniman dan karyanya yang tengah terpajang di hadapan anda.
Justru sebaliknya, pameran ini dirancang sebagai sebuah bentuk penghargaan terhadap pencapaian seseorang seniman sekaligus penghormatan terhadap Gampingan; rumah kita yang dulu sempat hilang dan kini telah kembali. Dan ketika membicarakan keduanya; Seniman dan Gampingan akan muncul paling tidak tiga soalan yang menarik. Pertama, jelas romantisme. Hal ini pula yang mendasari terjadinya acara “Melukis Lagi di Gampingan”. Yang kedua adalah chemistry, Gampingan dengan segenap auranya – meski secara fisik belum sehat benar —tetaplah rumah atau setidaknya taman bermain terbaik bagi seniman. Ketiga, wacana akan dibangunnya Jogja National Museum di tempat ini serta berbagai agenda lain untuk menjadikannya sebagai artspace dan atau ruang publik yang baru semakin menambah bobot soalan kita kali ini. Maka kemasan pameran ini haruslah mampu menampilkan ketiganya secara proporsional sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan sebagaimana tersebut di atas.
Itulah yang kami sebutkan dengan materi pameran ini bukan hanya lukisan, patung, sketsa atau instalasi saja, melainkan termasuk spirit atau malah soul situs budaya ini; halaman luas dan gedung bekas kampus ASRI, mural di tembok tuanya, kaca serta kusen pintu, jendela yang hilang, plafon yang berlubang, para penghuni yang masih tertinggal, beringin tua yang rimbun dan ngasri itu, semerbak bau alkohol, pendek kata semuanya dikemas untuk kemudian ditampilkan dengan baik, dan lucunya masih saja ada yang nyelonong ingin ikut menampilkan dirinya. Dan itu adalah tantangan bagi kami, panitia acara ini!
Aneka macam persoalan menghampiri kami sejak memulai pekerjaan untuk menghidup-hidupkan lagi Gampingan. Mulai dari kritik dan cemooh tentang wacana museum, betapa tidak mudahnya mengumpulkan seniman, kesungguhanYayasan Yogyakarta Seni Nusantara dan panitiapun sempat diragukan atau dipertanyakan, tersendatnya proses pengumpulan karya, keterbatasan dana, konsep fundrising yang dianggap tidak fair, ruang pamer yang belum siap hingga ke kritik bahkan protes yang memasuki wilayah personal alias pribadi. Alhamdulillah semua dapat terselesaikan dengan baik. Tentu saja terimakasih kami untuk semua pihak yang membantu serta permohonan maaf apabila membuat anda sekalian kurang berkenan.
Selanjutnya inilah suguhan kami, sebuah menu pameran sederhana yang harapan kami rasanya istimewa. Apapun itu, inilah wajah Gampingan sesungguhnya. Atau jangan-jangan wajah kita sendiri? Sekarang tinggal menunggu bagaimana tanggapan anda pecinta seni. We have done something, now it’s your turn to do more than something.
Yogyakarta, Desember 2006
Yuswantoro Adi
Pameran adalah sebuah kegiatan memamerkan sesuatu. Namun pameran kali ini unik, karena ia bukan sekadar memamerkan karya seni sebagai materi utama seperti pada pameran seni rupa umumnya. Ada banyak hal yang juga ikut dipamerkan, bukan hanya pelengkap semata, melainkan menjadi materi penting atau bahkan mungkin lebih penting daripada karya seni rupa itu sendiri. Tetapi, tolong jangan lantas dipahami bahwa pengantar ini bermaksud mengecil artikan peran seniman dan karyanya yang tengah terpajang di hadapan anda.
Justru sebaliknya, pameran ini dirancang sebagai sebuah bentuk penghargaan terhadap pencapaian seseorang seniman sekaligus penghormatan terhadap Gampingan; rumah kita yang dulu sempat hilang dan kini telah kembali. Dan ketika membicarakan keduanya; Seniman dan Gampingan akan muncul paling tidak tiga soalan yang menarik. Pertama, jelas romantisme. Hal ini pula yang mendasari terjadinya acara “Melukis Lagi di Gampingan”. Yang kedua adalah chemistry, Gampingan dengan segenap auranya – meski secara fisik belum sehat benar —tetaplah rumah atau setidaknya taman bermain terbaik bagi seniman. Ketiga, wacana akan dibangunnya Jogja National Museum di tempat ini serta berbagai agenda lain untuk menjadikannya sebagai artspace dan atau ruang publik yang baru semakin menambah bobot soalan kita kali ini. Maka kemasan pameran ini haruslah mampu menampilkan ketiganya secara proporsional sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan sebagaimana tersebut di atas.
Itulah yang kami sebutkan dengan materi pameran ini bukan hanya lukisan, patung, sketsa atau instalasi saja, melainkan termasuk spirit atau malah soul situs budaya ini; halaman luas dan gedung bekas kampus ASRI, mural di tembok tuanya, kaca serta kusen pintu, jendela yang hilang, plafon yang berlubang, para penghuni yang masih tertinggal, beringin tua yang rimbun dan ngasri itu, semerbak bau alkohol, pendek kata semuanya dikemas untuk kemudian ditampilkan dengan baik, dan lucunya masih saja ada yang nyelonong ingin ikut menampilkan dirinya. Dan itu adalah tantangan bagi kami, panitia acara ini!
Aneka macam persoalan menghampiri kami sejak memulai pekerjaan untuk menghidup-hidupkan lagi Gampingan. Mulai dari kritik dan cemooh tentang wacana museum, betapa tidak mudahnya mengumpulkan seniman, kesungguhanYayasan Yogyakarta Seni Nusantara dan panitiapun sempat diragukan atau dipertanyakan, tersendatnya proses pengumpulan karya, keterbatasan dana, konsep fundrising yang dianggap tidak fair, ruang pamer yang belum siap hingga ke kritik bahkan protes yang memasuki wilayah personal alias pribadi. Alhamdulillah semua dapat terselesaikan dengan baik. Tentu saja terimakasih kami untuk semua pihak yang membantu serta permohonan maaf apabila membuat anda sekalian kurang berkenan.
Selanjutnya inilah suguhan kami, sebuah menu pameran sederhana yang harapan kami rasanya istimewa. Apapun itu, inilah wajah Gampingan sesungguhnya. Atau jangan-jangan wajah kita sendiri? Sekarang tinggal menunggu bagaimana tanggapan anda pecinta seni. We have done something, now it’s your turn to do more than something.
Yogyakarta, Desember 2006
Yuswantoro Adi

1 Comments:
World Of Warcraft gold for cheap
wow power leveling,
wow gold,
wow gold,
wow power leveling,
wow power leveling,
world of warcraft power leveling,
world of warcraft power leveling
wow power leveling,
cheap wow gold,
cheap wow gold,
buy wow gold,
wow gold,
Cheap WoW Gold,
wow gold,
Cheap WoW Gold,
world of warcraft gold,
wow gold,
world of warcraft gold,
wow gold,
wow gold,
wow gold,
wow gold,
wow gold,
wow gold,
wow gold
buy cheap World Of Warcraft gold a3d6x7tu
Post a Comment
<< Home