gampingan-site

Ini ruang untuk siapa saja yang ingin mengintip dan bicara soal seni rupa. Gampingan, kampung tempat bekas kampus ASRI/STSRI "Asri"/Fak. Seni Rupa ISI Yogyakarta berada, adalah situs penanda untuk komunikasi kita. Tuliskan gagasan Anda via email ke rj_katamsi@yahoo.com atau kaprioke@yahoo.com

Name: gampingan

Saturday, December 16, 2006

Poros Gampingan dan Sepotong Mimpi

(Tulisan ini telah dimuat di katalog pameran Homage 2 Homesite yang berlangsung di eks kampus ASRI/FSR ISI Yogyakarta, 15-30 Desember 2006)

Catatan: Suwarno Wisetrotomo

Poros Gampingan (sebutan ini jika saya tak salah, mula pertama dikatakan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib), yang tak lain adalah Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, kemudian menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI “ASRI”) Yogyakarta, lalu tahun 1984 menjadi Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) yang menjadi bagian penting dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, merupakan penyeimbang dari Poros Bulaksumur. Poros yang ini, kita tahu, maksudnya adalah Universitas Gadjah Mada (UGM). Poros Gampingan diyakini sebagai markas besar tempat lahir dan berkembangnya kreativitas seni rupa dalam bentuknya yang luas, lentur, dan ‘serba mungkin’. Sementara Poros Bulaksumur dicitrakan sebagai markas besar tempat lahir dan berkembangnya pemikiran ilmu-ilmu humaniora, sosial, politik, sains, dan teknologi yang serba tertib, rigid, dan pasti.

Maka kehidupan antara Poros Gampingan dan Poros Bulaksumur, yang kemudian diramaikan oleh Poros Malioboro – sebagai arena pertemuan berbagai disiplin; sebagai melting pot – membuat kehidupan (masyarakat kota) Yogyakarta menjadi lebih hidup. Jangan lupa, Yogyakarta juga memiliki Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (dan para rajanya) yang kharismatis, serta Kadipaten Pakualaman. Ada makam para raja pendiri Mataram dan kerabatnya di Imogiri. Lalu ada Tugu Golong Gilig, Gunung Merapi yang kerapkali fenomenal dan atraktif menunjukkan kridha-nya (dilengkapi sosok Mbah Marijan yang teguh dan waskita), Tugu Krapyak, Pantai Parangtritis yang penuh mitos, kemudian Pasar Beringharjo, Pasar Burung Ngasem, dan sejumlah bangunan heritage colonial Belanda yang (sebagian) terawat dengan baik.

Kedua poros (Gampingan dan Bulaksumur) dengan takdirnya pada waktu itu, sungguh membuat Yogyakarta menjadi kawasan yang berbudaya, beradab, dan penuh kejutan. Khususnya Poros Gampingan, dengan segala daya kreativitasnya – yang kadang tampak banal, kurang ajar, eksentrik, mungkin juga tampak anarkhis – menawarkan kejutan-kejutan pada masyarakat. Namun jangan pula lupa, bahwa dari Gampingan-lah, seni rupa modern, seni rupa kontemporer Indonesia, kelak juga dunia internasional, mendapatkan pasokannya secara meyakinkan. Dari Gampingan tercatat sejumlah “pemberontakan kreatif” seperti Pameran Seni Rupa Kepribadian Apa (PIPA), Nusantara-Nusantara, Desember Hitam, Seni Lingkungan, Destructive Image, ada juga kelompok Mahasiswa Seni Pencinta Alam (Sasenitala), serta sejumlah “terobosan” kreatif yang mencerahkan. Halaman tulisan ini akan terlalu sempit untuk sekadar menyebut nama yang mewangikan jagad seni rupa Indonesia dan seni rupa internasional yang berasal dari “rumah Gampingan”. Akan tetapi baiklah, jika harus menyebut beberapa saja, seperti Affandi, RJ Katamsi, Suromo, Abdul Salam, Saptoto, Widayat, Fadjar Sidik, Aming Prayitno, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Subroto SM, hingga Sudarisman, Ivan Sagito, Nyoman Erawan, Heri Dono, Eddi Hara, Nindityo Adi Purnomo, Entang Wiharso, Fauzi As’ad, Nasirun, dan berderet-deret panjang nama lainnya. Nama-nama tersebut (sekali lagi masih terdapat berderet-deret nama lainnya), tak bisa disangkal, merupakan nama-nama yang malang melintang dalam jagad seni rupa Indonesia maupun internasional.

Apakah dari Gampingan hanya lahir para kreator (seniman)? Jika dirunut sejak mulanya institusi tersebut didirikan (ASRI diresmikan pada 15 Januari 1950), memang, di sana porsi utama proses belajar mengajar adalah “menjadi seniman” (khususnya menjadi pelukis, pematung, pegrafis, disainer, dan pekriya, dan kini seiring meluasnya wacana tentang batas-batas profesi, sebutannya menjadi perupa). Mata kuliah teori, seperti kritik seni, tinjauan seni, sosiologi seni, sejarah seni rupa, filsafat, dll, tentu saja ada. Akan tetapi karena “menjadi seniman” adalah arus utama, maka “menjadi yang lain-lain” - sebutlah seperti kritikus, kurator, pengelola galeri, pengelola museum seni, art dealer, kolektor, manajer, jurnalis seni rupa, bahkan guru/dosen – menjadi “arus sempalan”. Jadi memang agak nyeleneh, bahwa dari Gampingan juga melahirkan orang-orang seperti Agus Dermawan T, Hendro Wiyanto, Sumartono, M. Dwi Marianto, M. Agus Burhan, Nindityo Adi Purnomo, dan maaf menyebut diri sendiri, Suwarno Wisetrotomo, serta sejumlah generasi berikut seperti Kuss Indarto, Mikke Susanto, Sujud Dartanto, Rain Rosidi, yang memusatkan kiprahnya di luar menjadi seniman. Mereka semua memusatkan diri sebagai kritikus, kurator, dan peneliti seni. Sebagai perkecualian, Nindityo Adi Purnomo berhasil sebagai seniman juga pengelola sebuah Rumah Seni (bersama isterinya Mella Jaarsma), Agus Burhan tetap berkarya seni lukis, dan berhasil meraih derajat Doktor dalam ilmu sejarah, dan sebagai peneliti.

Menjaga Mimpi

Pada suatu ketika, di tahun 1984, ISI Yogyakarta diresmikan di Gampingan. Sebagian dari cita-cita ISI Yogyakarta adalah memiliki kampus terpadu, yang dapat menyatukan seluruh fakultas di satu area. Untuk itulah, maka pada akhirnya Gampingan harus ditinggalkan, karena harus “menyesuaikan diri”, bersama-sama dengan Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Media Rekam, jadi satu area di Jalan Parangtritis km 6,5. Maka yang terjadi di Gampingan adalah kenyataan baru: atmosfir kreatif itu lenyap. Dicabut dan diboyong ke Sewon, tetapi tentu tidak mudah memindah atmosfir kreatif itu langsung tercipta di area baru.

Hal lain yang cukup mengganggu, bahwa Yogyakarta yang nota bene menjadi basis kelahiran dan pertumbuhan seni rupa modern/kontemporer, justru tidak memiliki tempat yang memadai yang dapat digunakan untuk menyimpan jejak-jejak sejarah seni rupa. Ironis. Saya kira ini sebuah fakta yang menegaskan, bahwa Negara memang belum memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap salah satu produk kebudayaan yang disebut kesenian. Ia, kesenian itu, masih dianggap sebagai asesoris yang sekali waktu dianggap penting, tetapi bisa dengan mudah dilupakan. Padahal sesungguhnya, dari kesenianlah kita semua dapat belajar tentang sensitivitas, sensibilitas, dan toleransi.

Maka pada suatu ketika, muncullah wacana Museum Seni Rupa di Yoyakarta. Sekitar awal tahun 1990-an, saya pernah terlibat pembicaraan ikhwal Museum Seni Rupa ini dengan sejumlah tokoh, antara lain Bagong Kussudiardja (alm.), Tulus Warsito, Harjiman (alm.), Nindityo Adi Purnomo, Mahatmanto, Eko Prawoto, Hajar Pamadhi (sangat mungkin saya salah dan lupa mengingat nama-nama. Maaf!). Bahkan pernah mendapat respons (bahkan tantangan) dari Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X, dalam bentuk menawarkan sejumlah tempat untuk digunakan, dengan catatan harus direncanakan secara matang. Akan tetapi, entah mengapa, kami tak pernah mampu menjawab tantangan Ngarso Dalem. Yang pasti, terlalu benyak ide, tetapi miskin aksi.

Di awal tahun 2006 mimpi tentang Museum Seni Rupa kembali muncul. Inisiatif datang dari KPH Wironegoro (yang pada awalnya mengundang saya, Direktur Karta Pustaka Anggi Minarni, dan arsitek Laretna ‘Sita’ Adhisakti untuk mendiskusikan gagasan tersebut, dan berlangsung beberapa kali). Ide mendirikan “Jogja National Museum” ini saya anggap tepat dan penting, antara lain karena; pertama, sudah saatnya merealisasikan mimpi lama; kedua, sudah kelewat terlambat Yogyakarta memiliki institusi ini; ketiga, bekas kampus Gampingan merupakan tempat yang tepat, karena memiliki ikatan sejarah yang penting dengan seni rupa Indonesia.
Membuat museum? Yang bener aja! Mimpi kali yee…! Saya akan mengatakan: Ya, bener! Memang mimpi! Mari kita mulai dari mimpi. Akan tetapi siapapun tahu, membuat museum bukan seperti membangun kios kelontong. Membangun museum adalah membangun infrastruktur; membangun fisik, membangun peranti, membangun gagasan dan konsep, serta membangun kesinambungan. Kesemuanya tidak murah ongkosnya. Bahkan kelewat mahal. Namun yang pasti: inilah investasi budaya yang akan bermanfaat bagi generasi mendatang. Bagi saya, gagasan ini penting dan perlu, serumit apapun risikonya.

Pertanyaan yang sering muncul: kapan museum itu terwujud? Saya tidak tahu pasti. Ini gagasan besar yang membutuhkan sinergi dari banyak pihak. Ia nyaris musykil didirikan oleh hanya seseorang, atau sebuah yayasan, kecuali mendapatkan sponsor dari perusahaan multinasional/internasional, atau sekalian dibangun oleh pemerintah. Sebab nalarnya, pemerintahlah yang paling bertanggung jawab, sebagai bagian dari menyediakan institusi dan fasilitas pendidikan.

Pameran “Homage to Homesite”

Bermula dari kegiatan “Melukis Lagi di Gampingan” (MLG) yang dikoordinasi oleh Yuswantoro Adi. Kegiatan ini tak bisa disangkal lebih sebagai ajang temu kangen. Tema “Melukis Lagi di Gampingan” juga belum mewakili seluruh profil profesi alumni Gampingan. Maksud saya, masih juga soal lukisan, padahal alumni Gampingan meliputi seluruh praktek seni rupa (termasuk kriya) dan disain. Mungkin akan berbeda hasilnya, jika temanya berbunyi “Berkarya Lagi di Gampingan”.

Kegiatan MLG dilanjutkan dengan pameran dengan tajuk “Homage to Homesite – Kembali ke Gampingan”, saya anggap sebagai bagian dari cara “menjaga mimpi tentang museum”. Pameran ini, apa boleh buat, didominasi oleh lukisan. Tentang kualitas, ya apa boleh buat juga, gado-gado. Tak semuanya tentang hasil MLG. Atau, jika karya itu hasil MLG, bisa diduga, sekadar rekaman selintas yang seringkali tanpa intensitas. Bahkan ada yang mengirim “karya” dengan angka tahun (produksi) 90-an. Sejumlah karya, bahkan datang dari anak-anak. Asyik juga. Ini bahkan menjadi bagian penting dari “mimpi” tentang museum, sebab, anak-anak kitalah yang paling membutuhkan.

OK, tak apa. Ini pesta. Tepatnya sepotong pesta. Bahwa Gampingan adalah rumah para seniman. Di sanalah mula-mula pilihan (menjadi seniman) dijatuhkan, perjuangan dilakukan, jatuh bangun dijalankan, kemudian eksistensi dipertaruhkan. Sebagian survive, populer, dan memberikan kontribusi pada perkembangan kreativitas serta wacana seni rupa. Sebagian lainnya, melakoni hidup dengan kenyataan yang lain. Satu yang pasti, di Gampingan pernah terjadi pergulatan yang dahsyat.

Pameran ini pastilah hanya sepotong jejak pergulatan ini. Sebagai tanda awal, sebagian dari komunitas ini ingin menyatakan penghargaan dan penghormatan kepada rumah lama, yang menjadi bagian dari sejarah kehidupan kesenian dan kesenimanan para alumni. Juga menjadi bagian kecil dari cara menjaga dan merawat mimpi tentang Jogja National Museum. Siapa tahu, kegiatan awal ini menjadi provokasi yang kuat dan efektif kepada semua pihak (juga pemerintah), agar segera tergugah. Inilah saatnya melakukan investasi kebudayaan demi anak cucu kelak, agar menjadi generasi yang lebih sensitif, lebih peka terhadap berbagai persoalan manusia dan kemanusiaan, generasi yang lebih berbudaya dan lebih beradab. Insya Allah. Amin.

Suwarno Wisetrotomo, alumnus angkatan tahun 1982, kini mengajar di almamaternya, FSR ISI Yogyakarta.

Museum Situs Ingatan

(Tulisan ini telah dimuat dalam katalog pameran Homage 2 Homesite yang berlangsung di eks kampus ASRI/FSR ISI Yogyakarta, 15-30 Desember 2006)

Oleh Kuss Indarto

Sesungguhnya, tulisan yang hendak ngalor-ngidul ini tak berhasrat banyak untuk mendedahkan problem substansial atas teks visual (yang bertebaran di ruang pamer) seperti yang ditengarai oleh tajuk pameran ini. Dan sejatinya, memang, label Homage 2 Homesite (Kembali ke Gampingan) “sekadar” judul penanda pameran, bukan tajuk kuratorial yang galibnya dengan kuat mengimbas pada implimentasi atas rentetan karya-karya seni rupa di dalamnya. Ya, terus terang, ini memang merupakan pameran “dalam rangka”, bukan pameran “dengan kerangka” tematik yang ketat dan rigid.

Tak berbeda jauh ketimbang perhelatan sebelumnya, yakni Melukis Lagi di Gampingan yang berlangsung Minggu, 19 November 2006 lalu, pameran ini memberangkatkan diri dari upaya “romantik” untuk merawat ingatan. Ingatan, seperti yang digagas oleh pemikir Perancis Paul Ricoeur (1999), memiliki dua jenis hubungan dengan masa lalu. Pertama, merupakan relasi pengetahuan, sementara yang kedua adalah relasi tindakan. Kedua relasi ini muncul karena mengingat merupakan jalan untuk melakukan segala hal, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan pikiran kita. Dalam mengingat atau mengenang kita menggunakan ingatan, yang merupakan sejenis tindakan. Justru karena ingatan merupakan sebuah exercise, maka kita dapat berbicara tentang penggunaan ingatan, meski pada gilirannya bahkan memungkinkan kita berbicara tentang penyalahgunaan ingatan.

Dengan menjadikan ihwal ingatan sebagai kemungkinan konstruk pengetahuan, maka dua perhelatan, yakni Melukis Lagi di Gampingan dan pameran Homage 2 Homesite ini digelar secara berurutan. Dia, perhelatan tersebut, dihasratkan memunculkan banyak kemungkinan. Mungkin bisa sebagai “perayaan atas ingatan”. Pun barangkali menjadi semacam “pintu masuk” untuk memberi pemahaman-pemahaman baru atas “teks” ingatan yang telah melayap digerus waktu. Atau juga sekaligus dimungkinkan menjadi medan pemberi bingkai dan perspektif baru atas “teks” ingatan.

Situs Gampingan

Kemungkinan-kemungkinan tersebut cukup penting untuk dikedepankan sebagai respons atas wacana yang tengah mengembang. Yakni rencana akan dijadikannya bekas kampus seni rupa ASRI/STSRI “Asri”/Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Yogyakarta di Gampingan, Wirobrajan, sebagai museum seni rupa. Bahkan rencananya berlevel nasional. “Situs ingatan” ini mengemas banyak hal yang layak diaduk dan dibongkar kembali untuk mengais nilai-nilai yang selama ini diabaikan. Misalnya, seperti yang pernah diungkapkan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib (1991), bahwa di situs itu, pada kurun 1970-an, sangat kental akan situasi psikologis dan kultural yang sangat merangsang kreativitas dalam berkarya seni. Juga memiliki ketersentuhan integral dan inklusif yang menyeluruh dari realitas sosial. Ada iklim komunalitas yang kuat antarseniman sendiri dan antara seniman-masyarakat yang digambarkan begitu kental dan karib oleh Cak Nun.

Tentu kita tak akan menggiring diri menyelami alur kurun waktu lampau yang romantik itu untuk mengabaikan nilai kekinian yang pasti telah menggeser banyak sistem nilai sosial sebelumnya. Melainkan memberi bingkai pada ingatan atas situs Gampingan untuk menjadikannya sebagai sumber atau “ruh” pada bangunan sosial atas museum yang kelak akan dibangun. Artinya, bangunan fisik bisa semegah apapun atau bisa sementereng apapun seperti yang mungkin tengah digagas oleh pendirinya. Namun, nilai-nilai sosial yang menjadi pijakan di atasnya, pada hemat saya, bisa tetap mengawetkan atau mengadopsi sistem dan nilai sosial yang dulu atau selama ini telah terbangun di lingkungan tersebut. Sekali lagi, inklusivitas dan komunalitas yang kental, seperti diisyaratkan oleh Cak Nun adalah titik pentingnya. Situs Gampingan bisa tetap menjadi “rumah” untuk tempat kembali, situs untuk mendaratkan lagi ruh kreativitas.

Cermin Pembanding

Selepas itu, tampaknya kita harus berpikir cepat atas ketertinggalan kita yang telah masuk pada “stadium akut” dalam soal permuseuman. Misalnya dibandingkan dengan Amerika Serikat yang hingga tahun 1984 pun (22 tahun lalu, kawan!) telah mempunyai sekitar 5.000 museum (Hilde Hein, 1992) dengan beragam jenis museum dan varian sistem kepemilikan atau kepengelolaannya. Jumlah itu, tentu kini kian bertambah banyak sesuai perkembangan waktu dan kebutuhan akan museum yang kian menguat. (Dengan segala maaf, kita harus memberi diri contoh pembanding yang lebih maju agar perspektif pandang menjadi jauh lebih progresif). Keragaman museum tersebut berdasar tipe utamanya terdiri dari (1) museum seni rupa (art museums), (2) museum ilmu pengetahuan (science museums) seperti museum biologi, museum industri dan teknologi, museum botani dan sebagainya), lalu (3) museum antropologi (anthropology museums), (4) museum sejarah (history museums), dan (5) museum dengan ketertarikan khusus (miscellaneous special interest museum).

Atau ada realitas lain yang bisa diketengahkan di sini. Andai kita mau menengok kepada wajah raksasa ekonomi di Asia, Cina, yang juga kian menggeliat di sektor kebudayaannya, tentu akan cukup menggetarkan nyali. Kini, di sana ada realitas yang sedang dikonstruksi secara sistematis dan serius oleh pemerintah dan elemen masyarakat seni-budaya Cina, yakni proyek filantropi budaya dan repatriasi budaya (ARTnewsletter Highlights, edisi 3 Januari 2006). Proyek pertama, filantropi budaya, dihasratkan oleh pemerintah dan publik budaya Cina untuk “menghamburkan” (= mengalokasikan) dana (negara, perusahaan dan pribadi) demi kepentingan kebudayaan sebagai rencana strategis untuk menjadikan Cina sebagai kekuatan kebudayaan penting di dunia. Proyek ini, dari pertama dan utama, tidak ditendensikan untuk mengeruk keuntungan komersial. Salah satu proyek yang sedang direalisasikan adalah rencana pembangunan sekitar 1.000 (seribu) museum seni di seluruh daratan Cina hingga tahun 2015 atau dalam 9 tahun mendatang! Ini untuk melengkapi keberadaan 2.000 (dua ribu) museum yang telah ada hingga tahun 2002. Menariknya, proyek-proyek ini justru dipelopori oleh lembaga bisnis milik militer yakni Chine Poly Group Corporation yang dipimpin langsung oleh Mayor Jendral He Ping. Lembaga ini mulai bergerak di ranah seni budaya tahun 1998 lalu.

Proyek ambisius itu kiranya bukanlah isapan jempol belaka kalau menyimak laju perkembangan pasar seni rupa di sana yang sedikit banyak memiliki imbas positif pada pentingnya kehadiran banyak museum. Misalnya angka hasil pelelangan barang dan karya seni di semua balai lelang yang beroperasi di Cina yang menyentuh angka 579,9 juta dolar AS pada tahun 2003 dan melonjak hingga menjadi 1 milyar dolar AS (sekitar 9 triliun rupiah) sepanjang tahun 2004. Ini tidak termasuk angka transaksi finansial yang terjadi di galeri-galeri atau studio-studio seniman. Belum lagi ada perhelatan Shanghai Art Fair yang selalu dibanjiri pengunjung dari seluruh dunia.

Mau Ngapain Kita?

Ketimbang dua raksasa di atas, kita tentu jauh tertinggal. Bahkan untuk sekadar mendapatkan informasi dan data jumlah museum di tanah sendiri pun, alamak, merupakan perjuangan yang teramat berat. Sulit! Apalagi andai menyandingkan antara fakta-fakta yang terjadi di sini dan kemajuan mereka (negara lain, apalagi dengan Amerika Serikat dan Cina) yang tentu penuh ketimpangan dan cenderung kurang proporsional. Namun setidaknya dua contoh di atas betul-betul menjadi ilustrasi efektif yang akan mampu memberi nilai lebih dalam proses pembelajaran sekaligus shock therapy untuk lebih serius mewujudkan lebih banyak museum di Indonesia. Khususnya museum seni rupa di tanah Yogyakarta.

Nilai penting kehadiran museum ini kelak tentunya akan memberi ruang akomodasi atas (potongan) artefak seni rupa yang telah dihasilkan oleh seniman Yogyakarta atau Indonesia. Terjalin pula di dalamnya, karya tersebut dimungkinkan mampu menjadi alat baca untuk menelusuri fakta sosial-kultural yang lahir dari medan seni rupa. Atau dengan kata lain, fakta dalam seni rupa menjadi cermin dari realitas sosial-budaya. Di sinilah dimensi pembelajaran dan apresiasi akan beragam nilai-nilai mengemuka. Belum lagi aspek-aspek lain yang segera merimbun sebagai imbas positif dari munculnya museum. Anda, sidang pembaca, tentu tahu betul beragam imbas tersebut yang bisa anda sebut dan urai satu persatu. Dan itu akan kian variatif sesuai perkembangan waktu. Singkatnya, sudah saatnya kita bersama-sama membaca ulang dan membongkar kembali cara pandang serta cara bersikap yang kuno dan stereotipe ihwal museum yang selama ini, di republik tercinta ini, dipahami sebagai “kuburan” tempat mengonggokkan masa lalu saja, dan bukan sebagai “supermarket ingatan” tempat orang berbelanja dokumentasi.

Lalu, kalau ada kenyataan bahwa kita belum juga memiliki sebuah museum seni rupa yang representatif untuk ukuran kota Yogyakarta (yang telah terlanjur mengutuk diri sebagai “kota budaya”) ini, pada titik mana kita akan memulai? Pada kisi-kisi mana kita bisa ramai-ramai memberi kontribusi?

Pada momen ini, lewat cara dan medium apapun, kita bisa memulai untuk memberi kontribusi. Siapapun Anda! Mari bergegaslah bersama!

Penulis adalah alumnus Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta angkatan 1989. Bisa disapa di www.kuss-indarto.blogspot.com

Friday, December 15, 2006

Press Release

Pameran Seni Rupa Homage 2 Homesite

Sekitar 50 lukisan karya para seniman ternama Indonesia akan dipamerkan dalam pameran seni rupa Homage 2 Homesite yang akan dibuka resmi hari Jumat, 15 Desember 2006 di eks kampus ASRI di Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta. Di dalamnya ada karya-karya Djoko Pekik, Agus Suwage, Ivan Sagito, Nasirun, Wara Anindyah, Ivan Harianto, Hari Budiono, I Gusti Nengah Nurata, Made Djirna, Jumaldi Alfi, Yunizar, dan masih banyak lagi seniman ternama Indonesia. Dari tajuk pameran ini, Homage 2 Homesite, dengan jelas mengisyaratkan sebuah penghormatan terhadap kampung Gampingan, tempat beradanya kampus “kawah candradimuka”-nya para seniman seni rupa Indonesia.

Pameran yang rencananya akan dibuka oleh Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan kolektor seni Dr. Oei Hong Djien ini merupakan kelanjutan dari acara yang digelar sebulan sebelumnya, yakni Melukis Lagi di Gampingan pada tanggal 19 November lalu. Kedua perhelatan ini, meski berangkat dari sebuah romantisme, merupakan aktivitas integral sebagai bagian dari upaya sosialisasi atas rencana pendirian museum seni rupa yang dibangun di bekas kampus ASRI/STSRI/FSR ISI Yogyakarta tersetut. Museum ini sendiri rencananya berlevel nasional dengan label Jogja National Museum (JNM) yang diprakarsai oleh Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara dengan ketuanya KPH Wironegoro. Dengan demikian acara pameran seni rupa ini menjadi sebuah langkah penting yang dilakukan untuk mengetengahkan gagasan tentang pendirian museum secara jernih, jelas, dengan menjadikannya sebagai “umpan” yang diharapkan akan direspons secara baik oleh publik (seni).

Rencana pameran ini sendiri, sejak awal, telah direspons dengan antusias oleh para seniman. Sampai hari akhir penerimaan karya, yang waktunya hanya dua minggu, panitia telah kebanjiran karya hingga mencapai jumlah 200 karya seni. Karya-karya tersebut dikirimkan oleh seniman-seniman yang tidak saja alumni ASRI/STSRI/FSRI Yogyakarta saja, melainkan juga banyak seniman dari latar belakang yang berbeda. Tidak juga seniman yang menetap di Yogyakarta, namun dari mereka yang bermukim di Denpasar, Semarang, Solo, Purwokerto, Surabaya, Magelang, dan kota-kota lainnya. Ini menunjukkan antusiasme publik terhadap acara ini, sekaligus respons yang baik terhadap rencana pembangunan museum seni rupa. Gelagat ini terlihat jelas karena perhelatan pameran ini sepenuhnya merupakan pameran fundrising atau penggalangan dana dimana setiap karya lukis yang kelak terjual akan dipotong minimal 40% untuk diumbangkan kepada pihak Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara.

Meluapnya minat seniman terhadap pameran ini memaksa pihak panitia untuk menentukan sejumlah 50 karya dari sekitar 200 karya yang masuk. Seleksi ini dengan terpaksa dilakukan untuk tetap menjaga kualitas pameran, meski panitia akan tetap memajang semua karya yang masuk. Proses pemilihan karya yang masuk dalam “50 Besar” ini dilakukan oleh dua orang yang kurator, yakni Suwarno Wisetrotomo dan Kuss Indarto. Dari hasil seleksi ini, 50 karya “berhak” masuk dalam katalog, sedangkan semua nama seniman yang terlibat dalam kepesertaan pameran ini juga dicantumkan dalam katalog.

Pameran ini rencananya akan berlangsung hingga tanggal 30 Desember 2006 mendatang.

Panitia Pameran Homage 2 Homesite

Museum Situs Ingatan

Oleh Kuss Indarto

Sesungguhnya, tulisan yang hendak ngalor-ngidul ini tak berhasrat banyak untuk mendedahkan problem substansial atas teks visual (yang bertebaran di ruang pamer) seperti yang ditengarai oleh tajuk pameran ini. Dan sejatinya, memang, label Homage 2 Homesite (Kembali ke Gampingan) “sekadar” judul penanda pameran, bukan tajuk kuratorial yang galibnya dengan kuat mengimbas pada implimentasi atas rentetan karya-karya seni rupa di dalamnya. Ya, terus terang, ini memang merupakan pameran “dalam rangka”, bukan pameran “dengan kerangka” tematik yang ketat dan rigid.

Tak berbeda jauh ketimbang perhelatan sebelumnya, yakni Melukis Lagi di Gampingan yang berlangsung Minggu, 19 November 2006 lalu, pameran ini memberangkatkan diri dari upaya “romantik” untuk merawat ingatan. Ingatan, seperti yang digagas oleh pemikir Perancis Paul Ricoeur (1999), memiliki dua jenis hubungan dengan masa lalu. Pertama, merupakan relasi pengetahuan, sementara yang kedua adalah relasi tindakan. Kedua relasi ini muncul karena mengingat merupakan jalan untuk melakukan segala hal, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan pikiran kita. Dalam mengingat atau mengenang kita menggunakan ingatan, yang merupakan sejenis tindakan. Justru karena ingatan merupakan sebuah exercise, maka kita dapat berbicara tentang penggunaan ingatan, meski pada gilirannya bahkan memungkinkan kita berbicara tentang penyalahgunaan ingatan.

Dengan menjadikan ihwal ingatan sebagai kemungkinan konstruk pengetahuan, maka dua perhelatan, yakni Melukis Lagi di Gampingan dan pameran Homage 2 Homesite ini digelar secara berurutan. Dia, perhelatan tersebut, dihasratkan memunculkan banyak kemungkinan. Mungkin bisa sebagai “perayaan atas ingatan”. Pun barangkali menjadi semacam “pintu masuk” untuk memberi pemahaman-pemahaman baru atas “teks” ingatan yang telah melayap digerus waktu. Atau juga sekaligus dimungkinkan menjadi medan pemberi bingkai dan perspektif baru atas “teks” ingatan.

Situs Gampingan

Kemungkinan-kemungkinan tersebut cukup penting untuk dikedepankan sebagai respons atas wacana yang tengah mengembang. Yakni rencana akan dijadikannya bekas kampus seni rupa ASRI/STSRI “Asri”/Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Yogyakarta di Gampingan, Wirobrajan, sebagai museum seni rupa. Bahkan rencananya berlevel nasional. “Situs ingatan” ini mengemas banyak hal yang layak diaduk dan dibongkar kembali untuk mengais nilai-nilai yang selama ini diabaikan. Misalnya, seperti yang pernah diungkapkan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib (1991), bahwa di situs itu, pada kurun 1970-an, sangat kental akan situasi psikologis dan kultural yang sangat merangsang kreativitas dalam berkarya seni. Juga memiliki ketersentuhan integral dan inklusif yang menyeluruh dari realitas sosial. Ada iklim komunalitas yang kuat antarseniman sendiri dan antara seniman-masyarakat yang digambarkan begitu kental dan karib oleh Cak Nun.

Tentu kita tak akan menggiring diri menyelami alur kurun waktu lampau yang romantik itu untuk mengabaikan nilai kekinian yang pasti telah menggeser banyak sistem nilai sosial sebelumnya. Melainkan memberi bingkai pada ingatan atas situs Gampingan untuk menjadikannya sebagai sumber atau “ruh” pada bangunan sosial atas museum yang kelak akan dibangun. Artinya, bangunan fisik bisa semegah apapun atau bisa sementereng apapun seperti yang mungkin tengah digagas oleh pendirinya. Namun, nilai-nilai sosial yang menjadi pijakan di atasnya, pada hemat saya, bisa tetap mengawetkan atau mengadopsi sistem dan nilai sosial yang dulu atau selama ini telah terbangun di lingkungan tersebut. Sekali lagi, inklusivitas dan komunalitas yang kental, seperti diisyaratkan oleh Cak Nun adalah titik pentingnya. Situs Gampingan bisa tetap menjadi “rumah” untuk tempat kembali, situs untuk mendaratkan lagi ruh kreativitas.

Cermin Pembanding

Selepas itu, tampaknya kita harus berpikir cepat atas ketertinggalan kita yang telah masuk pada “stadium akut” dalam soal permuseuman. Misalnya dibandingkan dengan Amerika Serikat yang hingga tahun 1984 pun (22 tahun lalu, kawan!) telah mempunyai sekitar 5.000 museum (Hilde Hein, 1992) dengan beragam jenis museum dan varian sistem kepemilikan atau kepengelolaannya. Jumlah itu, tentu kini kian bertambah banyak sesuai perkembangan waktu dan kebutuhan akan museum yang kian menguat. (Dengan segala maaf, kita harus memberi diri contoh pembanding yang lebih maju agar perspektif pandang menjadi jauh lebih progresif). Keragaman museum tersebut berdasar tipe utamanya terdiri dari (1) museum seni rupa (art museums), (2) museum ilmu pengetahuan (science museums) seperti museum biologi, museum industri dan teknologi, museum botani dan sebagainya), lalu (3) museum antropologi (anthropology museums), (4) museum sejarah (history museums), dan (5) museum dengan ketertarikan khusus (miscellaneous special interest museum).

Atau ada realitas lain yang bisa diketengahkan di sini. Andai kita mau menengok kepada wajah raksasa ekonomi di Asia, Cina, yang juga kian menggeliat di sektor kebudayaannya, tentu akan cukup menggetarkan nyali. Kini, di sana ada realitas yang sedang dikonstruksi secara sistematis dan serius oleh pemerintah dan elemen masyarakat seni-budaya Cina, yakni proyek filantropi budaya dan repatriasi budaya (ARTnewsletter Highlights, edisi 3 Januari 2006). Proyek pertama, filantropi budaya, dihasratkan oleh pemerintah dan publik budaya Cina untuk “menghamburkan” (= mengalokasikan) dana (negara, perusahaan dan pribadi) demi kepentingan kebudayaan sebagai rencana strategis untuk menjadikan Cina sebagai kekuatan kebudayaan penting di dunia. Proyek ini, dari pertama dan utama, tidak ditendensikan untuk mengeruk keuntungan komersial. Salah satu proyek yang sedang direalisasikan adalah rencana pembangunan sekitar 1.000 (seribu) museum seni di seluruh daratan Cina hingga tahun 2015 atau dalam 9 tahun mendatang! Ini untuk melengkapi keberadaan 2.000 (dua ribu) museum yang telah ada hingga tahun 2002. Menariknya, proyek-proyek ini justru dipelopori oleh lembaga bisnis milik militer yakni Chine Poly Group Corporation yang dipimpin langsung oleh Mayor Jendral He Ping. Lembaga ini mulai bergerak di ranah seni budaya tahun 1998 lalu.

Proyek ambisius itu kiranya bukanlah isapan jempol belaka kalau menyimak laju perkembangan pasar seni rupa di sana yang sedikit banyak memiliki imbas positif pada pentingnya kehadiran banyak museum. Misalnya angka hasil pelelangan barang dan karya seni di semua balai lelang yang beroperasi di Cina yang menyentuh angka 579,9 juta dolar AS pada tahun 2003 dan melonjak hingga menjadi 1 milyar dolar AS (sekitar 9 triliun rupiah) sepanjang tahun 2004. Ini tidak termasuk angka transaksi finansial yang terjadi di galeri-galeri atau studio-studio seniman. Belum lagi ada perhelatan Shanghai Art Fair yang selalu dibanjiri pengunjung dari seluruh dunia.

Mau Ngapain Kita?

Ketimbang dua raksasa di atas, kita tentu jauh tertinggal. Bahkan untuk sekadar mendapatkan informasi dan data jumlah museum di tanah sendiri pun, alamak, merupakan perjuangan yang teramat berat. Sulit! Apalagi andai menyandingkan antara fakta-fakta yang terjadi di sini dan kemajuan mereka (negara lain, apalagi dengan Amerika Serikat dan Cina) yang tentu penuh ketimpangan dan cenderung kurang proporsional. Namun setidaknya dua contoh di atas betul-betul menjadi ilustrasi efektif yang akan mampu memberi nilai lebih dalam proses pembelajaran sekaligus shock therapy untuk lebih serius mewujudkan lebih banyak museum di Indonesia. Khususnya museum seni rupa di tanah Yogyakarta.

Nilai penting kehadiran museum ini kelak tentunya akan memberi ruang akomodasi atas (potongan) artefak seni rupa yang telah dihasilkan oleh seniman Yogyakarta atau Indonesia. Terjalin pula di dalamnya, karya tersebut dimungkinkan mampu menjadi alat baca untuk menelusuri fakta sosial-kultural yang lahir dari medan seni rupa. Atau dengan kata lain, fakta dalam seni rupa menjadi cermin dari realitas sosial-budaya. Di sinilah dimensi pembelajaran dan apresiasi akan beragam nilai-nilai mengemuka. Belum lagi aspek-aspek lain yang segera merimbun sebagai imbas positif dari munculnya museum. Anda, sidang pembaca, tentu tahu betul beragam imbas tersebut yang bisa anda sebut dan urai satu persatu. Dan itu akan kian variatif sesuai perkembangan waktu. Singkatnya, sudah saatnya kita bersama-sama membaca ulang dan membongkar kembali cara pandang serta cara bersikap yang kuno dan stereotipe ihwal museum yang selama ini, di republik tercinta ini, dipahami sebagai “kuburan” tempat mengonggokkan masa lalu saja, dan bukan sebagai “supermarket ingatan” tempat orang berbelanja dokumentasi.

Lalu, kalau ada kenyataan bahwa kita belum juga memiliki sebuah museum seni rupa yang representatif untuk ukuran kota Yogyakarta (yang telah terlanjur mengutuk diri sebagai “kota budaya”) ini, pada titik mana kita akan memulai? Pada kisi-kisi mana kita bisa ramai-ramai memberi kontribusi?

Pada momen ini, lewat cara dan medium apapun, kita bisa memulai untuk memberi kontribusi. Siapapun Anda! Mari bergegaslah bersama!

Penulis adalah alumnus Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta angkatan 1989. Bisa disapa di www.kuss-indarto.blogspot.com

Wednesday, December 13, 2006

Pengantar Yuswantoro Adi (Ketua Umum)

Kata Pengantar Pameran “Homage 2 Homeside”

Pameran adalah sebuah kegiatan memamerkan sesuatu. Namun pameran kali ini unik, karena ia bukan sekadar memamerkan karya seni sebagai materi utama seperti pada pameran seni rupa umumnya. Ada banyak hal yang juga ikut dipamerkan, bukan hanya pelengkap semata, melainkan menjadi materi penting atau bahkan mungkin lebih penting daripada karya seni rupa itu sendiri. Tetapi, tolong jangan lantas dipahami bahwa pengantar ini bermaksud mengecil artikan peran seniman dan karyanya yang tengah terpajang di hadapan anda.

Justru sebaliknya, pameran ini dirancang sebagai sebuah bentuk penghargaan terhadap pencapaian seseorang seniman sekaligus penghormatan terhadap Gampingan; rumah kita yang dulu sempat hilang dan kini telah kembali. Dan ketika membicarakan keduanya; Seniman dan Gampingan akan muncul paling tidak tiga soalan yang menarik. Pertama, jelas romantisme. Hal ini pula yang mendasari terjadinya acara “Melukis Lagi di Gampingan”. Yang kedua adalah chemistry, Gampingan dengan segenap auranya – meski secara fisik belum sehat benar —tetaplah rumah atau setidaknya taman bermain terbaik bagi seniman. Ketiga, wacana akan dibangunnya Jogja National Museum di tempat ini serta berbagai agenda lain untuk menjadikannya sebagai artspace dan atau ruang publik yang baru semakin menambah bobot soalan kita kali ini. Maka kemasan pameran ini haruslah mampu menampilkan ketiganya secara proporsional sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan sebagaimana tersebut di atas.

Itulah yang kami sebutkan dengan materi pameran ini bukan hanya lukisan, patung, sketsa atau instalasi saja, melainkan termasuk spirit atau malah soul situs budaya ini; halaman luas dan gedung bekas kampus ASRI, mural di tembok tuanya, kaca serta kusen pintu, jendela yang hilang, plafon yang berlubang, para penghuni yang masih tertinggal, beringin tua yang rimbun dan ngasri itu, semerbak bau alkohol, pendek kata semuanya dikemas untuk kemudian ditampilkan dengan baik, dan lucunya masih saja ada yang nyelonong ingin ikut menampilkan dirinya. Dan itu adalah tantangan bagi kami, panitia acara ini!

Aneka macam persoalan menghampiri kami sejak memulai pekerjaan untuk menghidup-hidupkan lagi Gampingan. Mulai dari kritik dan cemooh tentang wacana museum, betapa tidak mudahnya mengumpulkan seniman, kesungguhanYayasan Yogyakarta Seni Nusantara dan panitiapun sempat diragukan atau dipertanyakan, tersendatnya proses pengumpulan karya, keterbatasan dana, konsep fundrising yang dianggap tidak fair, ruang pamer yang belum siap hingga ke kritik bahkan protes yang memasuki wilayah personal alias pribadi. Alhamdulillah semua dapat terselesaikan dengan baik. Tentu saja terimakasih kami untuk semua pihak yang membantu serta permohonan maaf apabila membuat anda sekalian kurang berkenan.

Selanjutnya inilah suguhan kami, sebuah menu pameran sederhana yang harapan kami rasanya istimewa. Apapun itu, inilah wajah Gampingan sesungguhnya. Atau jangan-jangan wajah kita sendiri? Sekarang tinggal menunggu bagaimana tanggapan anda pecinta seni. We have done something, now it’s your turn to do more than something.

Yogyakarta, Desember 2006

Yuswantoro Adi

Press Release Pameran

Press Release
Pameran Seni Rupa Homage 2 Homesite


Sekitar 50 lukisan karya para seniman ternama Indonesia akan dipamerkan dalam pameran seni rupa Homage 2 Homesite yang akan dibuka resmi hari Jumat, 15 Desember 2006 di eks kampus ASRI di Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta. Di dalamnya ada karya-karya Djoko Pekik, Agus Suwage, Ivan Sagito, Nasirun, Wara Anindyah, Ivan Harianto, Hari Budiono, I Gusti Nengah Nurata, Made Djirna, Jumaldi Alfi, Yunizar, dan masih banyak lagi seniman ternama Indonesia. Dari tajuk pameran ini, Homage 2 Homesite, dengan jelas mengisyaratkan sebuah penghormatan terhadap kampung Gampingan, tempat beradanya kampus “kawah candradimuka”-nya para seniman seni rupa Indonesia.

Pameran yang rencananya akan dibuka oleh Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan kolektor seni Dr. Oei Hong Djien ini merupakan kelanjutan dari acara yang digelar sebulan sebelumnya, yakni Melukis Lagi di Gampingan pada tanggal 19 November lalu. Kedua perhelatan ini, meski berangkat dari sebuah romantisme, merupakan aktivitas integral sebagai bagian dari upaya sosialisasi atas rencana pendirian museum seni rupa yang dibangun di bekas kampus ASRI/STSRI/FSR ISI Yogyakarta tersetut. Museum ini sendiri rencananya berlevel nasional dengan label Jogja National Museum (JNM) yang diprakarsai oleh Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara dengan ketuanya KPH Wironegoro. Dengan demikian acara pameran seni rupa ini menjadi sebuah langkah penting yang dilakukan untuk mengetengahkan gagasan tentang pendirian museum secara jernih, jelas, dengan menjadikannya sebagai “umpan” yang diharapkan akan direspons secara baik oleh publik (seni).

Rencana pameran ini sendiri, sejak awal, telah direspons dengan antusias oleh para seniman. Sampai hari akhir penerimaan karya, yang waktunya hanya dua minggu, panitia telah kebanjiran karya hingga mencapai jumlah 200 karya seni. Karya-karya tersebut dikirimkan oleh seniman-seniman yang tidak saja alumni ASRI/STSRI/FSRI Yogyakarta saja, melainkan juga banyak seniman dari latar belakang yang berbeda. Tidak juga seniman yang menetap di Yogyakarta, namun dari mereka yang bermukim di Denpasar, Semarang, Solo, Purwokerto, Surabaya, Magelang, dan kota-kota lainnya. Ini menunjukkan antusiasme publik terhadap acara ini, sekaligus respons yang baik terhadap rencana pembangunan museum seni rupa. Gelagat ini terlihat jelas karena perhelatan pameran ini sepenuhnya merupakan pameran fundrising atau penggalangan dana dimana setiap karya lukis yang kelak terjual akan dipotong minimal 40% untuk diumbangkan kepada pihak Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara.

Meluapnya minat seniman terhadap pameran ini memaksa pihak panitia untuk menentukan sejumlah 50 karya dari sekitar 200 karya yang masuk. Seleksi ini dengan terpaksa dilakukan untuk tetap menjaga kualitas pameran, meski panitia akan tetap memajang semua karya yang masuk. Proses pemilihan karya yang masuk dalam “50 Besar” ini dilakukan oleh dua orang yang kurator, yakni Suwarno Wisetrotomo dan Kuss Indarto. Dari hasil seleksi ini, 50 karya “berhak” masuk dalam katalog, sedangkan semua nama seniman yang terlibat dalam kepesertaan pameran ini juga dicantumkan dalam katalog.
Pameran ini rencananya akan berlangsung hingga tanggal 30 Desember 2006 mendatang.

Panitia Pameran Homage 2 Homesite

Sunday, December 10, 2006



Made Surya Darma yang sedang bikin karya instalasinya yang dari obat nyamuk bakar dan semprot di depan atau sisi timur gedung sasaa aji yasa, 19 november 2006.



Mereka yang melintas di depan bekas gedung seni murni Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta di Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta. Dari kiri-kanan: Bambang Pramudyanto (bertopi merah), Slamet Riyadi (bertopi Putih), DR. M. Agus Burhan, F. Sigit Santosa, dan Hedi Hariyanto.



Beberapa seniman atau alumni ISI Yogyakarta sedang berada di depan gedung Sasana Aji Yasa, Minggu 19 November 2006. Tampak Nyoman Sukari dan teman-teman lain berjalan dengan latar belakang gedung tiga lantai yang dulu dipergunakan sebagai ruang kuliah Jurusan Disain. Beberapa lukisan besar karya Komunitas seni aring Padi menempel di dinding.

Saturday, December 09, 2006



Ini suasana di gedung Sasana Aji Yasa yang tak lagi lengkap: tanpa kaca, tanpa plafon putih, karena sudah tanpa penghuni...

Monday, November 20, 2006

Acara Melukis Lagi di Gampingan, 19 November 2006



Sunday, November 19, 2006

Akhirnya Tidak "Melukis Lagi di Gampingan"

Acara "Melukis Lagi di Gampingan: Aku Datang, Aku Senang, Aku Kenang", yang berlangsung Minggu, 19 November 206, terbilang sukses. Ini kalau kita menggunakan salah satu parameter, yakni kuantitas publik seni yang datang. Dari meja sekretariat tercatat ada sekitar 420 peserta datang dan mendaftar hingga jam 15.00 WIB. Ini tentu tak termasuk banyak seniman atau pengunjung yang datang tapi enggan untuk mencatatkan diri di buku tamu.

Mereka yang datang pun begitu beragam. Ada banyak seniman seni rupa yang sudah punya reputasi. Misalnya Ivan Sagito, Nasirun, Djoko Pekik, Agus Suwage, Ong Hari Wahyu, Koni Herawati, Putu Sutawijaya, dan lainnya. Dari Bali pun datang I Made Djirna. Pun Astari Rasjid dan Pintor Sirait yang beberapa lama ulang-alik Jakarta-Bali. Ada Hanafi dari Depok/Jakarta. Ada Arahmaiani dari Bandung. Datang pula kurator Enin Supriyanto, pemilik Nadi Gallery, Biantoro. Ada Ngurah Nurata dari Solo. Ada GM "Oom Pasikom" Sudarta dari Klaten. Mereka yang berstatus dosen Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) ISI Yogya ketika Gampingan masih jadi kampus pun berhamburan datang. Ada Anusapati, Sudarisman, Alex Luthfi, Agus Burhan, Pracoyo, Sun Ardi, Soebroto SM, dan lainnya. Terlihat pula mondar-mandir arsitek Sta Laretna Adhisakti, penyair Afrizal Malna, dan lainnya. Dan tentu saja tak terbilang banyaknya rombongan seniman yang datang dari kota-kota lain di sekitar Yogya seperti dari Semarang, Solo, Klaten, Magelang, Semarang, Purwokerto, dan lainnya. Apalagi seniman atau mahasiswa seni yang bermukim di Yogyakarta. Wuih, banyak sekali.

Nuansa nostalgis atau romantik nampaknya begitu kuat, sehingga rentetan acara yang telah dirancang oleh panitia, tak bisa berjalan dengan "bagus" sesuai rencana. Seniman2 yang sudah mengagendakan diri untuk melukis, ketika tiba di Gampingan, membatalkan diri karena waktunya habis untuk ngobrol dengan lama yang bertahun-tahun tak bertemu. Maklum, ini merupakan ajang pertama untuk "reuni" setelah Gampingan dicabut "otoritas"-nya sebagai kampus FSR ISI Yogyakarta. Ellia yang jauh-jauh datang dari Tulungagung, Jawa Timur, ya akhirnya sibuk ngobrol ke sana-sini dengan rekan seangkatannya yang telah belasan tahun tak ketemu. Pun dengan Dedi PAW yang meski bukan alumni ISI/ASRI, "gagal" melukis meski telah menyiapkan kanvas di mobilnya. Dia memilih ngobrol dengan sesama teman seniman.

So, ketika acara "ngobrol" soal museum berlangsung, respon peserta kurang optimal. Meskipun bukan berarti gagal, tetapi ada beberapa point yang bisa ditangguk sebagai masukan penting bagi pihak manajemen museum. Beberapa seniman yang ingin bicara serius meski dengan suasana santai, tak bisa maksimal karena "ditingkahi" oleh seniman lain yang lebih dulu fly yang terus teriak2 di sekitar areal acara ngobrol itu. Hahahaha, itulah "roh" ASRI yang dulu begitu lucu bertahun2 hingga 1997 saat kampus ini dipindahkan ke Sewon, Bantul.

Acara ini kemudian ditutup dalam gelap dan oleh tampilnya grup ShaggyDog yang mendendangkan sekitar 8 lau di pelataran utara gedung Sasana Ajiyasa. Tanpa sound system yang memadai, mereka nyanyi, ditingkahi oleh cuap2 penonton yang riuh, juga oleh beberapa seniman yang menari-nari ala musik Ska, termasuk juga seniman Bob Sick yang melukis para personal ShaggyDog on the spot.

...Njing, anjing, anjing, anjing Kintamani ...

Makasih, makasih, teman2 seniman, juga rekan2 pers yang telah menyebarluaskan rencana acara kemarin, dan menjadikan acara Melukis Lagi di Gampingan berlangsung dengan sukses. Meski banyak di anatar mereka "tidak melukis (lagi) di Gampingan"... hahahaha. Salam (kuss indarto)